Dengan demikian, yingkat Pengangguran Terbuka pun mengalami penurunan dari 1,35 menjadi 1,25. Daya Beli naik 8.348 menjadi 8.654. Tingkat Kemiskinan turun 13,38% menjadi 12,52%. Tingkat Gini Ratio turun dari 0,29 menjadi 0,28.
Diskusi dan markombur berjalan dinamis. Antara lain lebih khusus memperbincangkan pertanian di Samosir. St Eduard Sigalingging mempertanyakan kepada narasumber Prof Tualar, terkait yang cocok untuk Samosir, yang berbasis inovasi pertanian.
Menurut Eduard Sigalingging, pertanian kita adalah pertanian warisan. “Masih cocok kah kacang, bawang, jagung atau bergeser ke komoditi lain, misalnya kemiri. Tapi dengan mengolah hasil kemiri untuk menambah nilai tambah, misalnya keripik kemiri, di Indonesia belum ada,” ungkap Sigalingging.
Eduard juga menginspirasi pemeliharaan ikan salmon, dengan rekayasa genetik. Dia mencontohkan ikan bandeng dulu kita tahu hanya ikan laut, ternyata sekarang menjadi ikan tawar.
Peserta, Hasudungan Sidabutar berpendapat, salah satu hal penting yang perlu diperhatikan ketika ingin mengembangkan pertanian adalah ketersediaan air di gunung-gunang tempat lahan pertanian.
Menurut Antonius Nadeak, menjalankan program pertanian memerlukan inovasi, agar produk dapat nilai tambah. Persoalannya, kata Nadeak, bahan baku yang mau diolah tidak tersedia. “Tentu saja warga Samosir membutuhkan alih teknologi pertanian dan merubah sikap dari petani santai menjadi petani professional,” harapnya.
Sedangkan Daulat Saragi melihat perlu adanya buah unggulan dari Samosir yang menjadi ciri khas Samosir. Dia mencontohkan di Penang, ada suatu wilayah yang namanya Durian Balik Pulau, nama suatu wilayah yang dijadikan perkebunan Durian Musang King yang harganya 1 Kg sampai Rp300 ribu.
Berbeda dengan Tiar Simarmata. Menurutnyamembangun Samosir membutuhkan kerja keras dan pengorbanan yang tulus. “Karenanya kita menginginkan Samosir Satu dan jajarannya betul-betul mereka yang berniat membangun Samosir, bukan sekadar mencari nama dan mencari harta. Saya sarankan Parna Indonesia buat kontrak moral dengan Samosir satu Priode 2020/2025,” ulasnya.
Disambut Zack Sidabutar. Menurut hemat dia membangun Samosir, harus pararel dengan membangun manusianya dan pembangunan pariwisata yang massif secara maraton.
Sedangkan Unggul Sitanggang menyarankan Parna mengapressiasi kerja Bupati sekarang dan sebelumnya. “Samosir tinggal menjalankan untuk lebih baik oleh bupati berikutnya. Intinya, Samosir harus mengandalkan budaya,” katanya. D|Rel