Masyarakat Dusun II Desa Pardomuan Nauli: Krisis Air bersih Ancam Kehidupan Sehari-Hari

- Penulis

Rabu, 19 November 2025 - 14:44 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kondisi terkini embung Aek Galung Ketika kemarau ekstrim Tiba. (Foto:Ist)

Kondisi terkini embung Aek Galung Ketika kemarau ekstrim Tiba. (Foto:Ist)

Samosir-Mediadelegasi : Dusun II Desa Pardomuan Nauli, sebuah desa yang terdiri dari sekitar 40 keluarga, bergulat dengan krisis air bersih  yang telah menentukan kehidupan mereka selama bertahun-tahun. Keberadaan mereka adalah bukti ketahanan di tengah kelangkaan, di mana setiap tetes air adalah kemenangan yang diraih dengan susah payah.

Penduduk desa sepenuhnya bergantung pada dua waduk kecil, Embung Aek Galung dan Embung Peatinambok, untuk semua kebutuhan air mereka. Waduk ini adalah jalur kehidupan masyarakat, menyediakan air untuk minum, memasak, mencuci, mandi, dan menghidupi ternak mereka, termasuk kerbau.

Selama musim hujan, masyarakat menampung air hujan untuk bertahan hidup selama beberapa bulan. Namun, kekeringan yang berkepanjangan, terutama kekeringan ekstrem dalam delapan bulan terakhir, telah membawa masyarakat ke ambang kehancuran. Permukaan air di kedua waduk telah turun drastis, mengancam akan mengering sepenuhnya.

kondisi terkini embung Peatinambok. (Foto:Ist)

Situasi kritis ini telah menjerumuskan penduduk desa ke dalam keadaan darurat air. Setiap hari, para wanita harus berjalan jauh, seringkali berulang kali, untuk mengambil beberapa ember air dari dasar waduk. Anak-anak mandi dan mencuci di genangan lumpur yang digunakan bersama oleh ternak. Para petani berjuang untuk menyediakan air yang cukup bagi kerbau mereka.

Akumulasi sedimen selama bertahun-tahun telah secara signifikan mengurangi kapasitas waduk, menyebabkan mereka cepat mengering. Sekarang, dengan waduk yang hampir kosong, masyarakat melihat peluang unik untuk normalisasi atau pengerukan, karena kondisi kering memudahkan pengoperasian mesin berat.

Di tengah kesulitan ini, masyarakat Dusun II dengan rendah hati memohon bantuan kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Samosir. Mereka tidak hanya mencari normalisasi kedua waduk tetapi juga penyediaan fasilitas air bersih yang lebih berkelanjutan dan memadai. Harapan terbesar mereka adalah agar anak-anak mereka tidak perlu berjuang untuk mendapatkan air bersih.

Di Dusun II Desa Pardomuan Nauli, setiap hari bukanlah tentang mencari harapan tetapi tentang menunggu dalam antrian untuk bertahan hidup. penduduk desa, dari orang tua hingga ibu dan anak-anak, berdiri di sepanjang tepi kolam berlumpur. Mereka memegang ember, kaleng cat bekas, dan wadah darurat, yang mereka gunakan untuk mengumpulkan sedikit air yang tersisa.

BACA JUGA:  Serahkan Bantuan Alsintan, Bupati Samosir Minta Pemanfaatan Optimal

Air yang mereka kumpulkan bukan dari sumur, mata air, atau perusahaan air setempat. Sebaliknya, mereka bersaing untuk mendapatkan air genangan—air yang telah diminum hewan, air yang telah berubah warna karena kekeringan yang berkepanjangan, air yang tidak layak untuk memasak atau mandi. Namun, bagi 40 keluarga yang tinggal di desa terpencil ini, itu adalah harapan terakhir mereka.

Kondisi Warga dari Ibu-Ibu Hingga lansia menunggu giliran mengambil air kubangan untuk kebutuhan sehari hari. (Foto:Ist)

Di antara mereka yang menunggu dalam antrian, seorang wanita tua membawa ember besar di kepalanya, tubuhnya membungkuk karena kelelahan. Seorang ibu muda berjuang untuk menjaga embernya agar tidak tumpah, sementara seorang ayah berdiri diam, memegang ember kecil yang hampir tidak memenuhi kebutuhan keluarganya. Seekor anjing peliharaan berdiri di tengah kerumunan, tampaknya memahami perjuangan putus asa manusia untuk mendapatkan air, kebutuhan dasar kehidupan.

Tidak ada keluhan, tidak ada suara keras. Satu-satunya suara adalah langkah kaki di tanah yang lembap dan suara ember menyentuh air. Kesabaran adalah satu-satunya kekuatan mereka saat mereka menunggu giliran. Setiap tetes air di ember mereka adalah bukti perjuangan mereka.

Inilah kehidupan di Dusun II selama musim kemarau panjang. Mereka tidak meminta banyak. Mereka hanya menginginkan air bersih, air yang dapat mereka minum tanpa rasa takut, air yang dapat mereka gunakan untuk mandi tanpa gatal, air yang memungkinkan mereka untuk merawat anak-anak dan keluarga mereka dengan baik.

Ini adalah tangisan diam dari sebuah komunitas yang telah menanggung penderitaan selama bertahun-tahun karena terbatasnya akses ke air bersih. Ini adalah kenyataan pahit yang terus mereka hadapi, berharap suatu hari nanti mereka tidak perlu lagi mengantri di kolam berlumpur untuk bertahan hidup.

BACA JUGA:  DPC SPSI Samosir Semprot Disinfektan & Bagi-bagi ‘Masker Holong’

Semangat masyarakat terlihat jelas dalam kesabaran dan ketekunan mereka. Terlepas dari tantangan, mereka tetap bersatu dalam harapan mereka untuk masa depan yang lebih baik. Mereka percaya bahwa dengan dukungan pemerintah dan organisasi lain, mereka dapat mengatasi krisis ini dan mengamankan pasokan air yang berkelanjutan untuk desa mereka.

Kurangnya air bersih memiliki konsekuensi yang luas bagi kesehatan dan kesejahteraan penduduk. Penyakit bawaan air merupakan ancaman konstan, terutama di kalangan anak-anak. Kelangkaan air juga memengaruhi sanitasi dan kebersihan, yang selanjutnya memperburuk risiko kesehatan.

Kekeringan juga berdampak pada ekonomi lokal. Para petani berjuang untuk mengairi tanaman mereka, yang menyebabkan penurunan hasil panen dan pendapatan. Kurangnya air untuk ternak juga memengaruhi mata pencaharian mereka, karena mereka tidak dapat memelihara hewan yang sehat untuk dijual atau dikonsumsi.

Situasi di Dusun II adalah pengingat yang jelas tentang pentingnya air sebagai hak asasi manusia yang mendasar. Ini menyoroti kebutuhan mendesak akan pengelolaan air dan pengembangan infrastruktur yang berkelanjutan di daerah pedesaan.

Permohonan bantuan masyarakat adalah seruan untuk bertindak bagi pemerintah, LSM, dan pemangku kepentingan lainnya. Dengan bekerja bersama, mereka dapat memberi penduduk Dusun II akses ke air bersih dan meningkatkan kualitas hidup mereka.

Kisah Dusun II adalah kisah tentang ketahanan, harapan, dan semangat manusia yang abadi. Ini adalah pengingat bahwa bahkan dalam menghadapi kesulitan, masyarakat dapat bersatu untuk mengatasi tantangan dan membangun masa depan yang lebih baik.

Saat matahari terbenam di Dusun II, penduduk desa kembali ke rumah, ember mereka dipenuhi dengan air yang berharga. Mereka tahu bahwa hari esok akan membawa hari perjuangan lainnya, tetapi mereka tetap berharap bahwa suara mereka akan didengar dan bantuan akan segera tiba. D|Red.

 

 

 

 

Baca artikel menarik lainnya dari
mediadelegasi.id di GOOGLE NEWS.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel mediadelegasi.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Sumatera Utara Ditunjuk Jadi Tuan Rumah IMT-GT 2026: Peluang Emas Dorong Ekonomi dan Daya Saing Regional
PDIP ‘Serang’ Bobby Soal Kompensasi PLN, Gerindra dan Golkar Membela
Seleksi Komisioner KI Sumut 2026–2030: Gubernur Bobby Minta Objektif, 40 Peserta Bersaing Rebut 15 Kursi ke Tahap Berikutnya
Wagub Sumut Surya Buka Sensus Keluarga dan Ekonomi 2026: Data Akurat Kunci Kebijakan Tepat Sasaran
Erni Ariyanti Sitorus Temui Massa Aksi BEM USU di DPRD Sumut, Terima Sembilan Tuntutan Mahasiswa
PGMNI Sumut dan Kesbangpol Bahas Langkah Besar untuk Tingkatkan Kesejahteraan Guru Madrasah di Sumut
Terima Permohonan Maaf Hamdani, Aktivis Hukum Sebut Erni Ariyanti Dinilai Tunjukkan Jiwa Besar dan Kedewasaan
Gubernur Bobby Nasution: MTQ ke-40 Sumut Harus Jadi Syiar Alquran Berkelanjutan, Bukan Sekadar Seremonial
Berita ini 8 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 17 Juni 2026 - 17:52 WIB

Sumatera Utara Ditunjuk Jadi Tuan Rumah IMT-GT 2026: Peluang Emas Dorong Ekonomi dan Daya Saing Regional

Rabu, 17 Juni 2026 - 17:44 WIB

PDIP ‘Serang’ Bobby Soal Kompensasi PLN, Gerindra dan Golkar Membela

Rabu, 17 Juni 2026 - 17:13 WIB

Seleksi Komisioner KI Sumut 2026–2030: Gubernur Bobby Minta Objektif, 40 Peserta Bersaing Rebut 15 Kursi ke Tahap Berikutnya

Rabu, 17 Juni 2026 - 17:03 WIB

Wagub Sumut Surya Buka Sensus Keluarga dan Ekonomi 2026: Data Akurat Kunci Kebijakan Tepat Sasaran

Senin, 15 Juni 2026 - 17:50 WIB

Erni Ariyanti Sitorus Temui Massa Aksi BEM USU di DPRD Sumut, Terima Sembilan Tuntutan Mahasiswa

Berita Terbaru