Masyarakat Dusun II Desa Pardomuan Nauli: Krisis Air bersih Ancam Kehidupan Sehari-Hari

Kondisi terkini embung Aek Galung Ketika kemarau ekstrim Tiba. (Foto:Ist)

Samosir-Mediadelegasi : Dusun II Desa Pardomuan Nauli, sebuah desa yang terdiri dari sekitar 40 keluarga, bergulat dengan krisis air bersih  yang telah menentukan kehidupan mereka selama bertahun-tahun. Keberadaan mereka adalah bukti ketahanan di tengah kelangkaan, di mana setiap tetes air adalah kemenangan yang diraih dengan susah payah.

Penduduk desa sepenuhnya bergantung pada dua waduk kecil, Embung Aek Galung dan Embung Peatinambok, untuk semua kebutuhan air mereka. Waduk ini adalah jalur kehidupan masyarakat, menyediakan air untuk minum, memasak, mencuci, mandi, dan menghidupi ternak mereka, termasuk kerbau.

Selama musim hujan, masyarakat menampung air hujan untuk bertahan hidup selama beberapa bulan. Namun, kekeringan yang berkepanjangan, terutama kekeringan ekstrem dalam delapan bulan terakhir, telah membawa masyarakat ke ambang kehancuran. Permukaan air di kedua waduk telah turun drastis, mengancam akan mengering sepenuhnya.

Bacaan Lainnya
kondisi terkini embung Peatinambok. (Foto:Ist)

Situasi kritis ini telah menjerumuskan penduduk desa ke dalam keadaan darurat air. Setiap hari, para wanita harus berjalan jauh, seringkali berulang kali, untuk mengambil beberapa ember air dari dasar waduk. Anak-anak mandi dan mencuci di genangan lumpur yang digunakan bersama oleh ternak. Para petani berjuang untuk menyediakan air yang cukup bagi kerbau mereka.

Akumulasi sedimen selama bertahun-tahun telah secara signifikan mengurangi kapasitas waduk, menyebabkan mereka cepat mengering. Sekarang, dengan waduk yang hampir kosong, masyarakat melihat peluang unik untuk normalisasi atau pengerukan, karena kondisi kering memudahkan pengoperasian mesin berat.

Di tengah kesulitan ini, masyarakat Dusun II dengan rendah hati memohon bantuan kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Samosir. Mereka tidak hanya mencari normalisasi kedua waduk tetapi juga penyediaan fasilitas air bersih yang lebih berkelanjutan dan memadai. Harapan terbesar mereka adalah agar anak-anak mereka tidak perlu berjuang untuk mendapatkan air bersih.

Di Dusun II Desa Pardomuan Nauli, setiap hari bukanlah tentang mencari harapan tetapi tentang menunggu dalam antrian untuk bertahan hidup. penduduk desa, dari orang tua hingga ibu dan anak-anak, berdiri di sepanjang tepi kolam berlumpur. Mereka memegang ember, kaleng cat bekas, dan wadah darurat, yang mereka gunakan untuk mengumpulkan sedikit air yang tersisa.

Air yang mereka kumpulkan bukan dari sumur, mata air, atau perusahaan air setempat. Sebaliknya, mereka bersaing untuk mendapatkan air genangan—air yang telah diminum hewan, air yang telah berubah warna karena kekeringan yang berkepanjangan, air yang tidak layak untuk memasak atau mandi. Namun, bagi 40 keluarga yang tinggal di desa terpencil ini, itu adalah harapan terakhir mereka.

Kondisi Warga dari Ibu-Ibu Hingga lansia menunggu giliran mengambil air kubangan untuk kebutuhan sehari hari. (Foto:Ist)

Di antara mereka yang menunggu dalam antrian, seorang wanita tua membawa ember besar di kepalanya, tubuhnya membungkuk karena kelelahan. Seorang ibu muda berjuang untuk menjaga embernya agar tidak tumpah, sementara seorang ayah berdiri diam, memegang ember kecil yang hampir tidak memenuhi kebutuhan keluarganya. Seekor anjing peliharaan berdiri di tengah kerumunan, tampaknya memahami perjuangan putus asa manusia untuk mendapatkan air, kebutuhan dasar kehidupan.

Tidak ada keluhan, tidak ada suara keras. Satu-satunya suara adalah langkah kaki di tanah yang lembap dan suara ember menyentuh air. Kesabaran adalah satu-satunya kekuatan mereka saat mereka menunggu giliran. Setiap tetes air di ember mereka adalah bukti perjuangan mereka.

Inilah kehidupan di Dusun II selama musim kemarau panjang. Mereka tidak meminta banyak. Mereka hanya menginginkan air bersih, air yang dapat mereka minum tanpa rasa takut, air yang dapat mereka gunakan untuk mandi tanpa gatal, air yang memungkinkan mereka untuk merawat anak-anak dan keluarga mereka dengan baik.

Ini adalah tangisan diam dari sebuah komunitas yang telah menanggung penderitaan selama bertahun-tahun karena terbatasnya akses ke air bersih. Ini adalah kenyataan pahit yang terus mereka hadapi, berharap suatu hari nanti mereka tidak perlu lagi mengantri di kolam berlumpur untuk bertahan hidup.

Pos terkait