“Sudah lebih kurang 10 tahun demokrasi Indonesia terseok-seok, sengaja atau tidak, demokrasi negeri ini telah dikebiri,” ujar Ustadz Indra Suheri membuka ceritanya mendukung Edy-Hasan.
Dikatakannya, ketika ada ilmu teori politik tentang suara masyarakat adalah suara kebenaran. “Namun sepertinya itu tertutupi dengan suara kekuasaan, sehingga kekuasaan akan cenderung melakukan secara otoritas semua perangkat mesin praktek penyelanggara bermasyarakat dan bernegara bisa diintervensi oleh pengambil kebijakan,” ungkap Ketua FUISU AMANAR.
Menurutnya, keadaan tersebut menyebabkan demokrasi di negeri ini terkebiri dan nyaris mati. “Oleh karena itu, suara-suara akar rumput dari masyarakat ini bisa membaca situasi bahwa kita ingin adanya perubahan. Untuk itu sosok Letnan Jendral (purn) Edy Rahmayadi dan Hasan Basri Sagala akan membawa kepada perubahan,” ungkap Ustadz Indra.
“Sosok Edy Ramhayadi seorang Jendral memiliki mentalitas, jiwa nasionalisme dan patriotisme yang dekat dengan akar rumput masyarakat bawah. Dia juga merangkul kelompok pemuda, kelompok buruh, kelompok agama dan itu wujud jiwa nasionalisme untuk menjaga dan merawat di tengah perbedaan-perbedaan,” tandas Ustadz Indra.
D|Red-06