Ketua Komisi Nasional Disabilitas, Dante Rigmalia, menyoroti bahwa penyandang disabilitas masih menghadapi banyak tantangan, terutama dalam bidang pendidikan. Data menunjukkan bahwa sebagian besar dari mereka hanya bersekolah hingga kelas 5 sekolah dasar, dan hanya sekitar 5% yang berhasil melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Oleh karena itu, kehadiran Komisi Nasional Disabilitas bersama Tim AAS bertujuan untuk mendorong pemerintah daerah agar lebih aktif berkolaborasi dalam memperluas akses pendidikan bagi penyandang disabilitas, salah satunya melalui program beasiswa AAS.
Program Manager Department of Foreign Affairs and Trade Kedutaan Besar Australia, Tea Naibaho, menjelaskan bahwa program beasiswa AAS secara khusus menargetkan penyandang disabilitas dan perempuan. Beasiswa ini menawarkan dukungan inklusif bagi penyandang disabilitas (Kelompok Sasaran Ekuitas/ETG) untuk studi S2 dan S3 di Australia, termasuk Disability Support Agreements (DSA) yang mencakup akomodasi, transportasi, dan pendampingan.
“Program ini tidak memiliki batasan usia. Saat ini, kami sedang melakukan sosialisasi di Medan, setelah sebelumnya sukses menggelar sosialisasi di wilayah Indonesia bagian timur,” pungkas Tea Naibaho, menandaskan komitmen Australia dalam mendukung pendidikan inklusif di Indonesia. D|Red-Hendra.
Baca artikel menarik lainnya dari
mediadelegasi.id di GOOGLE NEWS







