Purbaya juga memberikan analisis optimis terkait tren harga minyak dunia yang fluktuatif. Meski sempat menyentuh angka tinggi, ia menilai kecil kemungkinan harga minyak mentah akan bertahan di atas level 100 dolar AS per barel dalam durasi yang sangat panjang, sehingga tekanan fiskal terhadap APBN diprediksi akan mereda seiring waktu.
Kementerian Keuangan telah melakukan penelitian mendalam terkait pergerakan harga minyak hingga akhir tahun dengan asumsi rata-rata 100 dolar AS per barel. Purbaya memastikan bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap kredibel dan tangguh dalam membiayai seluruh kebutuhan paradigma subsidi BBM tanpa mengganggu pos belanja penting lainnya.
Integrasi kebijakan ini melibatkan penghematan di berbagai sektor non-prioritas agar anggaran tetap efisien. Dengan demikian, risiko pembengkakan anggaran yang biasanya mengganggu kesehatan fiskal dapat ditekan seminimal mungkin melalui manajemen keuangan yang disiplin, transparan, dan terukur secara teknokratis.
“Waktu kita melakukan simulasi dengan harga minyak rata-rata 100 dolar AS per barel hingga akhir tahun, melalui penghematan di sana-sini, kami pastikan defisit tetap terjaga di kisaran 2,9 persen,” jelas Purbaya. Angka ini menunjukkan kepatuhan pemerintah terhadap aturan batas defisit anggaran yang ditetapkan oleh undang-undang keuangan negara.
Sebagai penutup, ia menekankan bahwa keberhasilan mengelola subsidi ini adalah bukti nyata kehadiran negara dalam melindungi ekonomi rakyat. Dengan komitmen ini, diharapkan stabilitas inflasi dapat terjaga dan pemulihan ekonomi nasional terus berjalan sesuai jalur tanpa dibayangi ketakutan akan runtuhnya paradigma subsidi BBM yang selama ini menjadi penyokong mobilitas warga. D|Red.
Baca artikel menarik lainnya dari
mediadelegasi.id di GOOGLE NEWS.







