Di satu sisi, ada pedagang dan masyarakat yang merasa terdampak secara ekonomi dan menilai kebijakan tersebut tidak adil. Di sisi lain, muncul aksi dukungan dari kelompok masyarakat yang menilai kebijakan itu sebagai bagian dari penataan demi ketertiban.
“Ini menunjukkan adanya persoalan serius dalam komunikasi dan pengambilan kebijakan,” kata Alex.
Ditambahkannya, Walikota Medan tidak perlu malu untuk belajar dari para pemimpin sebelumnya. Justru dari pengalaman itulah kualitas kepemimpinan bisa semakin matang dan bijaksana.
Selama ini, Kota Medan dikenal sebagai daerah yang kondusif, bahkan kerap menjadi barometer toleransi di Indonesia. Keberagaman yang ada mampu dijaga dengan baik melalui pendekatan yang seimbang, adil, dan penuh kearifan.
Karena itu, penting bagi wali kota saat ini untuk menjaga warisan tersebut. Belajar dari praktik baik sebelumnya bukan berarti mundur, melainkan bentuk tanggung jawab agar stabilitas sosial tetap terjaga.
Di tengah situasi yang mulai memanas, dibutuhkan kepemimpinan yang terbuka, mau mendengar, dan mampu merangkul semua pihak.
“Jangan sampai Medan yang selama ini dikenal rukun justru terkesan terpecah karena kebijakan yang kurang matang,” tukas dia. D-Red








