“Selanjutnya, mengambil spuit 0,5 cc di dalam box spuit yang diyakini sudah diisi vaksin sesuai dosis oleh perawat W. Kemudian, melakukan suntikkan vaksin secara intramuskular di lengan kiri atas menggunakan spuit yang diyakini sudah berisi vaksin yang berada di belakang kursi) dan saya menyuntikkannya,” jelas dokter G.
Menyikapi viralnya video tersebut, dokter G menyatakan sudah ada mediasi dengan pihak keluarga, yang difasilitasi pihak sekolah dan pihak kepolisian keesokan harinya. Pertemuan itu dilakukan di ruang rapat sekolah yang juga dihadiri kepala sekolah, guru-guru, vaksinator, perawat. Di pertemuan mediasi itu juga telah dijelaskan pemahaman bahwa apa yang disuntikkan benar adalah yang berisi vaksin yang telah diisi perawat W ke dalam spuit.
“Namun, apabila pihak keluarga masih belum yakin, dapat diberikan suntikan ulang kembali. Tetapi, pihak keluarga menolak disuntik kembali karena sudah peraya setelah mendengar penjelasan dokter dan perawat bahwa yang disuntikkan itu telah berisi vaksin, sehingga tidak perlu lagi penyuntikan ulang,” pungkas dokter G.
Namun demikian, Kepala Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit (P2P) Dinkes Kota Medan, dr Mutia Nimpar menyampaikan pihaknya siap melakukan suntikan ulang terhadap siswa SD Wahidin, Medan Labuhan.
“Namun, sebelum melakukan penyuntikan ulang, kita akan berkoordinasi dulu dengan orangtua dan pihak terkait yakni pihak kepolisian, sebab kasus ini sudah ditangani kepolisian,” katanya.
Mutia menuturkan, pihaknya dalam waktu dekat juga akan melakukan pendekatan baik kepada orangtua siswa maupun siswa yang diduga menerima suntikan vaksin kosong tersebut. Karena sebelum melakukan suntikan vaksinasi ulang, harus memastikan bahwa siswa tersebut tidak dalam keadaan trauma.
“Mengenai jumlah anak yang akan disuntik ulang kita belum tahu karena masih penyidikan, jadi kita menunggu hasilnya. Jika semua harus divaksin ulang, tentu kita siap vaksin ulang. Artinya, kita ambil alih pelaksanaan vaksinasi di sekolah tersebut,” tandas Mutia. (D|Red-5)