Perhatikan lakonmu, kudiamkan sampai batas kemarahan itu menjadi awal kehancuran tamengmu. Untuk apa kamu berdalil kemegahan kalau nanti kamu menjual kemunafikan itu menjadi tragis kepiluan. Runtuh keabadiaanmu tidak akan lama melihat ulah dan kelakuan yang kamu mainkan rantai perbudakan. Jangan mendatangkan karma kepada orang yang sudah diam karena waktunya sudah berjalan.
Masa perbudakan akan terjadi saat kamu memperlakukan ketulusan dan kejujurannya menjadi bencana bagai orang meludah keatas langit terpercik ke mukanya.
Ukirlah hatimu diatas tinta yang tergores jangan kau ukir diatas awan yang menanti penyesalanmu. Sanggupkah kamu akan lewati? Sebab air mata sudah tak terbendung sampai meluapkan api kemarahan mengeringkan ludah pada kerongkonganmu.
Jangan ludahi kebenaran itu karena walau diam dia akan berbicara seraya alam menggemparkan duniamu. Diam hatiku bukan diam jiwaku. Diam mulutku bukan diam ilhamku. Sampai menjemput kehadiranmu maka kegundahan hati akan menyelimutimu.
Sungguh kesunyianmu menjadi luka bagi banyak orang sampai berkecamuk awan kegelisahan.
Dunia boleh diam tapi jiwa hati akan bergejolak bagai guncangan ombak besar mendentum. Biarkan serpihan itu berantakan karena mungkin awal kehancuran.
Kuusap diamku melalui serpihan itu membuka tabir tercuat bencana akan datang tanpa satupun mengenalinya. Mungkinkah aku sanggup menahan ini semua? Ini adalah Prolog dari semesta alam akan timbul kegentaran dan kehinaan yang kamu awali.
Lihat dan nantikan, aku tak sanggup melihat namun itu akan terjadi. Aku diam dan tak sepatah kata keluar, jejak kaki akan menggoyahkan sekitarnya, rumput pun diam, makhluk sekitar turun melihat sinyal bahaya, timbul dari kedalaman air bahaya mengintai, engkau timbulkan kemarahan dia slama ini diam dalam kesunyian. Itu semua karena kejahatan yang kau timbulkan.
Akh.. andai mereka paham, namun sudahlah, itu tak terbantahkan, tak satupun mengetahui epilog itu berakhir. Aku hanya diam dan melihat.







