Membangun Jiwa dan Raga Bangsa

Membangun Jiwa dan Raga Bangsa
Jacob Ereste (Peneliti di Atlantika Institut Nusantara Jakarta)

Hanya dengan begitu kesan dan penerimaan yang simpatik dari setiap orang yang sempat bersentuhan dengan sikap dan sifat yang mulia itu akan menjadi embrio dari sejarah peradaban manusia yang baru untuk masa depan yang lebih baik dan lebih harmoni dalam tatanan sosial hingga budaya dan politik yang lebih beradab, tidak seperti budaya  bar-barian saat menjelang Pemilu yang tiba-tiba bisa menghalalkan segala cara.

Atas dasar ini pula, agaknya Gerakan Moral Rekonsiliasi Indonesia (GMRI) yang digagas dan digerakkan oleh  sejumlah tokoh sejak 20-an tahun silam itu untuk membangun gerakan kesadaran dan kebangkitan spiritual yang berbasis pada etik profetik seperti diusung oleh  agama langit, sungguh sangat  mumpuni untuk dimotori oleh suku bangsa Nusantara yang memiliki cukup bekal yang sangat potensial memimpin dunia melalui wilayah atau habitat budaya.

Oleh karena itu, eksistensi masyarakat adat dan keraton yang nyaris ada di seluruh daerah dan wilayah di Nusantara ini perlu mendapatkan kembali  sebagian dari fungsi dan peranannya ikut menjaga dan mengembangkan potensi masyarakat setempat yang memiliki beragam genius lokal yang tidak dimiliki oleh bangsa lain.

Dalam perspektif ini pun, masyarakat adat dan keraton tidak bisa berdiam diri, karena untuk memberikan dukungan diperlukan kesadaran bersama untuk melakukannya dalam wujud program yang nyata, seperti membangun pusat pemeliharaan, kajian pengembangan dan pemberdayaan potensi masyarakat adat dan keraton yang terpusat di lingungan rumah-rumah dan keraton yang ada di Nusantara.

Idealnya memang, semua semua masyarakat ada dan semua masyarakat keraton mendapat prioritas khusus dalam strategi pembangunan nasional yang layak dan patut mendapat perhatian yang kalah penting dengan program pendidikan nasional untuk melahirkan generasi yang lebih tangguh di masa depan bangsa. Sebab di jaman pembangunan hari ini,  upaya membangun jiwa dan raga bagi bangsa Indonesia hanya dalam bentuk  fisik (material) semata.

Penulis | Jacob Ereste (Peneliti di Atlantika Institut Nusantara Jakarta)

Pos terkait