Pengembangan Ekonomi Samosir Butuh Pola ‘Simbiose Mutualisme’

Pengembangan Ekonomi Samosir Butuh Pola ‘Simbiose Mutualisme’
Tangkap layar Zoom Virtual DPP Fokksa. Foto: D|Ist

Terpisah, hal serupa juga ditunjukkan pengurus Masyarakat Sadar Wisata (Masata) Yohannes Tobing dalam program penggalangan UKM KDT di Pulau Samosir beberapa tahun lalu. Plus, pernah juga model penataan lingkungan hidup dengan pepohonan buah bernilai ekonomi bagi anak-anak sekolah setempat atas binaan Letkol CHK-TNI Jalongser Simbolon dari Lembaga Cinta Alam Samosir (LCAS) pada 2016 lalu.

“Semua item program yang disiapkan Fokksa, idealnya harus menjadi instrumen kenderaan dalam menuju kolaborasi melalui proposal itu. Artinya, kita masyarakat tentu akan diuntugkan, dan serta merta pemerintah juga memperoleh manfaat. Jadi, kedua bilah sama-sama diuntungkan dan ini akan mendorong realisasi kerja sama pada sesi berikutnya,” ujar Arjon optimis.

Hal senada juga dicetuskan Pandapotan Turnip, bahwa upaya dan tindak kolaborasi antara Fokksa dan pemerintah, baik pemerintah pusat maupun Pemda Provinsi atau Pemda Kabupaten (Samosir/KSPN Danau Toba), sebaiknya digalang dan dimulai dengan menghimpun semua potensi yang ada pada setiap individu pengurus maupun para pendukung Fokksa di mana pun berada.

Bacaan Lainnya

“Fokksa ini kan terdiri dari para pakar dan ahli di bidangnya masing-masing. Itu sebenarnya sudah potensi dasar untuk menggalang kolaborasi internal, lalu kemudian menjadi sarana menjalin kolaborasi eksternal pada bidang atau sektor yang jadi prioritas masyarakat maupun prioritas daerah Samosir,” katanya serius.

Pos terkait