Dari yang tujuh mobil tersebut, hanya lima saja yang muat. “Setelah terjadi konflik, maka mobil yang 5 unit sudah masuk kapal Fery, mereka sepakat untuk keluar dan mencari jalur lain,” imbuh Laspayer.
Jadi, kata Laspayer, tidak ada yang dirugikan. “Kalaupun rombongan yang tujuh mobil itu memberikan uang parkir, saya pikir itu wajar, sebab mereka sudah menggunakan lapangan parkir pelabuhan ini,” ujarnya.
Sementara pihak UPT Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (ASDP) melalui Kepala satuan pengelola dermaga Simanindo, Awal Batubara mengatakan, di dermaga Ambarita ini, ada tiga manajemen, yaitu parkir dikelola dinas Perhubungan Pemkab Samosir, dermaga dikelola ASDP, dan manajemen Fery Ihan Batak.
Terkait kericuhan pengguna jasa atau penumpang Fery Ihan Batak, itu di luar manajemen pihaknya. “Kan ada petugas parkir, harusnya dari rombongan 7 mobil itu 5 lagilah yang muat. Tapi yang 2 mobil lagi langsung menerobos dari parkiran menuju Fery,” ujarnya.
Saat ditanya wartawan mengenai tiket ke tujuh mobil rombongan dimaksud, kapan jadwalnya, ia mengatakan, tentu tiketnya sudah dibatalkan dan itu sudah clear.
Ditanya mengenai apakah pihak pengelola dermaga Simanindo bisa menunjukkan tiket ke tujuh mobil rombongan itu? Awal mengatakan ada. Dan bisa menunjukkannya. Tapi ketika diminta wartawan menunjukkan bukti tiket dimaksud, ia berdalih dan mengatakan, tiketnya sudah dimusnahkan. Awal Batubara pun pergi, katanya untuk makan siang. D|Rel