Dampak keberadaan sarang burung walet tersebut juga dirasakan oleh pedagang-pedagang kecil yang berjulan di pinggir jalan raya lintas Sumatera, Kotapinang.
Salah satunya Anita, 37, pedagang es yang juga merasakan dampak dari keberadaan sarang burung walet tersebut, Selasa (26/10), menuturkan, setiap hari terganggu dengan kotoran burung walet, yang sering juga jatuh mengenai pembeli.
“Kadang kasian kita bang, pas ada orang beli, jatuh kotoran burung kena ke orangnya. Apalagi kotoranya itu kan gatal bang. Kayak hujan-hujan gini kena airnya gatal-gatal kulit kita,” tambahnya.
Awak media menindaklajuti dampak kotoran burung walet dan burung walet tersebut terhadap kesehatan manusia ke Dinas Kesehatan Kabupaten Labuhanbatu Selatan, Selasa (26/10,) namun belum ada yang bisa untuk dikonfirmasi.
Sementara sebelumy, Rabu (1/9), Kepala Badan Pengelolaan Pendapatan Daerah Kabupaten Labuhanbatu Selatan, Hasan Basri Harahap, S.Sos. MM di ruangannya mengatakan, terkait pemungutan pajak retribusi sebagai Pendapatan Asli Daerah (PAD), belum pernah melakukan kutipan kepada objek pajak sarang burung walet yang berada di Kotapinang. “Sampai saat ini belum pernah kita lakukan pemungutan,” jelasnya. D|Lbs-24