Toba dan Kartu Hijau: Momentum Menata Ulang Arah Geopark Kita

Wilmar Elisaser Simandjorang

Dalam bidang edukasi dan promosi, UNESCO mendorong agar interpretasi geopark difokuskan pada peran Danau Toba sebagai supervulkan terbesar di dunia, sekaligus memasukkan isu bahaya alam dan kualitas air dalam materi edukatif. Ini krusial. Sudah saatnya edukasi geopark tidak hanya bersifat simbolik, tetapi benar-benar menyentuh pemahaman masyarakat, mulai dari anak sekolah hingga pengambil kebijakan lokal.

Geowisata vs. Pariwisata Massal

Catatan tajam juga diberikan terhadap pengembangan pariwisata. UNESCO menegaskan bahwa geowisata harus diarahkan untuk mendukung pembangunan berkelanjutan, bukan sekadar mengejar angka kunjungan. Pengalaman masa lalu menunjukkan bahwa pariwisata massal yang tidak terkontrol bisa berdampak buruk pada ekosistem dan ketahanan sosial budaya masyarakat.

Saya sepenuhnya sepakat dengan rekomendasi agar setiap proyek berskala besar dikonsultasikan terlebih dahulu dengan komunitas dan otoritas lokal. Transparansi dan partisipasi adalah kunci agar masyarakat tidak merasa menjadi objek pembangunan, melainkan subjek utama dalam pengelolaan wilayahnya sendiri.

Komunitas Adat, Bukan Sekadar Catatan Tambahan
Satu hal yang patut menjadi bahan renungan adalah temuan bahwa evaluator awalnya tidak mendapat informasi tentang keberadaan komunitas adat Parmalim. Ini menyedihkan, sekaligus membuka mata kita bahwa pendekatan geopark belum sepenuhnya mendekat ke masyarakat adat.

Komunitas Parmalim bukan hanya bagian dari sejarah dan budaya Toba. Mereka adalah penjaga nilai dan kearifan lokal yang harus diakui, dilibatkan, dan dilindungi secara eksplisit dalam kerangka geopark. Mengintegrasikan pengetahuan tradisional mereka ke dalam praktik geopark adalah bentuk keadilan ekologis sekaligus penguatan identitas lokal.

Menatap ke Depan

Kartu Hijau bukan garis akhir. Ia adalah awal babak baru untuk menata ulang arah Geopark Toba: dari proyek branding menuju model pembangunan berbasis komunitas dan keberlanjutan jangka panjang.

Ini saatnya kita bergerak lebih kompak. Badan Pengelola tidak bisa berjalan sendiri. Diperlukan kolaborasi antara akademisi, komunitas, pelaku wisata, dan pemerintah daerah. Mari kita buktikan bahwa Geopark bukan sekadar logo atau program, tapi wujud nyata dari cinta kita pada tanah Toba dan generasi mendatang.
Horas!

Oleh: Wilmar Elisaser Simandjorang

Pos terkait