Medan-Mediadelegasi: Wakil Gubernur Sumatera Utara Surya secara resmi menutup Pelatihan Kepemimpinan Nasional Tingkat II Angkatan XII Tahun 2026 di Aula Raja Inal Siregar, Kantor Gubernur Sumut, Medan, Jumat (25/9/2026). Dalam arahannya, ia menegaskan keberhasilan pelatihan tidak diukur dari sertifikat yang diterima, melainkan dari sejauh mana gagasan yang dirancang mampu diwujudkan dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas.
“Keberhasilan PKN Tingkat II tidak diukur dari sertifikat kelulusan yang diterima hari ini, melainkan dari sejauh mana gagasan tersebut benar-benar diimplementasikan dan memberikan dampak yang dirasakan masyarakat,” ujar Surya.
Surya juga membagikan refleksi mendalam mengenai peran integritas sebagai fondasi utama kepemimpinan. Berdasarkan pengalaman pembekalan bersama KPK dan Lembaga Administrasi Negara, ia menyampaikan penguasaan teknis pemerintahan hanyalah sebagian kecil dari keberhasilan, sementara bagian terbesar terletak pada ketulusan hati nurani.
“Integritas itu jujur, dan jujur itu identik dengan baik, baik dalam perilaku maupun perbuatan yang tidak melanggar ketentuan peraturan. Integritas adalah ukuran yang harus terus kita pertahankan,” tegasnya.
Para peserta diharapkan membawa perubahan nyata di lingkungan kerja masing-masing, memperkuat tata kelola yang bersih, transparan, dan akuntabel.
Deputi Bidang Transformasi Pembelajaran ASN LAN RI Erna Irawati hadir dalam acara tersebut dan memaparkan empat pilar kompetensi kepemimpinan yang wajib dimiliki aparat, yaitu mengelola diri sendiri, mengelola orang lain, mengelola kinerja, serta mengelola perubahan.
Di tengah perubahan yang berlangsung cepat, pemimpin dituntut untuk tidak berhenti belajar. Tantangan birokrasi tidak hanya soal transformasi digital, tetapi juga kesiapan menghadapi situasi krisis yang sewaktu-waktu dapat muncul.
“Kunci dari perubahan adalah belajar. Pemimpin ketika berhenti belajar, organisasinya tidak akan tumbuh. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang meninggalkan warisan kebermanfaatan yang dimulai dari proses transformasi,” tutur Erna.
Ia mengingatkan agar proyek perubahan yang telah disusun selama pelatihan tidak berhenti begitu saja saat acara ditutup, melainkan terus didorong hingga menghasilkan dampak nyata bagi organisasi maupun masyarakat.
Kepala BPSDM Provinsi Sumut Agustinus Panjaitan melaporkan pelatihan berlangsung sejak 20 Mei hingga 25 September 2026 dengan mengangkat tema “Kepemimpinan Adaptif dalam Transformasi Tata Kelola Penanggulangan Bencana untuk Mewujudkan Resiliensi dan Daya Saing Daerah”.
Sebanyak 49 peserta mengikuti pelatihan yang berasal dari Pemprov Sumut, Kejaksaan Agung RI, serta pemerintah kabupaten/kota se-Sumatera Utara dan daerah lainnya seperti Kampar dan Pasaman Barat. Dari jumlah tersebut, 48 peserta dinyatakan lulus, sementara satu orang ditunda kelulusannya karena kondisi kesehatan.
Berbeda dengan angkatan sebelumnya, kegiatan Visitasi Kepemimpinan Nasional kali ini dilakukan langsung di lokasi pascabencana di Kabupaten Tapanuli Selatan. Hasil kajian lapangan menghasilkan sejumlah rekomendasi penting, antara lain penguatan mitigasi dan kesiapsiagaan berbasis data, perlindungan kelompok rentan pascabencana, kolaborasi berbasis kearifan lokal, serta percepatan pemulihan pelayanan publik.
Acara ditutup dengan pemberian apresiasi kepada lima peserta terbaik dan penyerahan dokumen rekomendasi kebijakan kepada pemerintah daerah sebagai bahan tindak lanjut. D|Red.
Baca artikel menarik lainnya dari
mediadelegasi.id di GOOGLE NEWS.
Penulis : Miranda
Editor : Alan






