Ia mencontohkan momen Muktamar Muhammadiyah pada tahun 2022, di mana umat Katolik turut memberikan dukungan dengan menyediakan gereja sebagai tempat parkir, transit, dan menyumbang konsumsi bagi para peserta.
Fajar menekankan bahwa isu konvergensi antar umat beragama telah selesai, dan tantangan saat ini adalah bagaimana memperkuat gerakan bersama antar umat beragama untuk menjawab berbagai persoalan yang dihadapi bangsa.
Dalam kesempatan tersebut, Fajar juga menyinggung buku “Kristen Muhammadiyah” yang merupakan hasil risetnya bersama Mendikdasmen Abdul Mu’ti. Buku ini mendokumentasikan interaksi historis dan praksis antara umat Kristen dan Muhammadiyah di berbagai daerah di Indonesia, sebagai model dialog dan kerja sama lintas iman yang nyata.
“Saat ini, di bawah kepemimpinan Pak Menteri Abdul Mu’ti nilai-nilai itu kami bawa ke kebijakan pendidikan dasar dan menengah agar lahir generasi yang unggul secara kognitif dan sosial-emosional, peka pada keberagaman, dan mampu mengatasi kesenjangan pendidikan,” jelas Fajar.
Ia juga menekankan pesan Paus Fransiskus bahwa pendidikan harus memanusiakan manusia, menumbuhkan kesadaran ekologis, dan memperkuat keseimbangan antara aspek kognitif dan sosial-emosional.
Fajar mengajak semua pihak, termasuk tokoh agama dan masyarakat, untuk terus menghidupkan pesan positif kunjungan Paus, terutama pesan untuk menarasikan nilai kemanusiaan, kebersamaan, dan bela rasa, terutama di ruang digital yang saat ini menjadi sumber informasi bagi generasi muda.






