TPL : Sumber Konflik Tak Berujung, Pemerintah Diminta Tutup

- Penulis

Selasa, 26 Agustus 2025 - 15:49 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto : Masyarakat Adat Natumingka dan PT.TPL. (Sumber : Ist)

Foto : Masyarakat Adat Natumingka dan PT.TPL. (Sumber : Ist)

Medan-Mediadelegasi : PT. Toba Pulp Lestari (TPL) sebuah Perusahaan di kawasan Tapanuli Raya dan Tapanuli Bagian Selatan telah menjadi masalah bagi Masyarakat yang tidak kunjung usai. Perusahaan yang terus Berkonflik berkepanjangan dengan Masyarakat dan terindikasi terjadi pelanggaran hukum dan Hak asasi manusia yang berlangsung sudah cukup lama.

Direktur Lingkar Studi Pembangunan, Ansor Harahap mengungkapkan banyak masalah ditimbulkan dampak keberadaan TPL. Bahkan kata Ansor, perusahaan produksi pabrik bubur kertas itu merupakan bencana yang tak berujung di Sumatera Utara.

Selain itu, TPL juga diduga menjadi penyebab banjir bandang yang terjadi beberapa waktu lalu di sejumlah titik di Kabupaten Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan dan Samosir.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Kehadiran TPL di Sumatera Utara, seperti bencana yang tidak berkesudahan, konflik tanah, penyebab banjir, pelanggaran hak asasi manusia,” kata Ansor yang juga Wakil Ketua KNPI Sumut, Selasa 26 Agustus 2025.

Setelah berkonflik panjang di wilayah kawasan Tabagsel bekas Tapanuli Selatan, sejak tahun 1990-an, sewaktu masih bernama Indorayon Inti Utama, TPL telah memicu konflik dengan masyarakat.

Kini, sejak awal 2024, TPL memperluas wilayah konfliknya ke Tapanuli Selatan, Paluta dan Sidimpuan. Di daerah ini masyarakat yang telah lama menguasai dan mengusahai lahannya diusir secara paksa, padahal di antaranya tidak sedikit yang telah memegang sertifikat tanah.

BACA JUGA:  Pemkab Sudah Anggarkan Dana Rehab SDN 037999 Juma Batu

“Ternyata masyarakat yang memiliki sertifikat tanah di Tapsel dan Sidimpuan justru diusir dari lahan mereka” kata mantan Ketum Gerakan Mahasiswa Padang Lawas (Gema Palas) tersebut.

Di mana-mana TPL selalu mengandalkan Izin Menteri Kehutanan, salah satunya Keputusan Menteri Kehutanan Republik Indonesia No: SK. 704/Menhut-II/2013 tanggal 21 Oktober 2013 tentang Penetapan Batas Areal Kerja PBPH Perseroan yang didalamnya mengklaim memiliki lahan 28.340. Yaitu lahan yang diberikan pemerintah sebagai konsesi TPL berbentuk hutan negara.

Tapi kenyataan di lapangan, baik di kawasan Tabagsel dan Taput Raya, hutan negara yang dimaksudkan di dalamnya terdapat perkampungan dan lahan-lahan yang telah lama diusahai masyarakat. Bahkan sebelum TPL ada, masyarakat telah lama menggantungkan hidup kepada lahan yang kini diklaim sebagai konsesi TPL.

Anehnya, PT TPL terkesan tidak transparan terkait detail dan letak geografis dari 28.340 hektare lahan konsesi yang ada di Tapanuli Selatan, karena diduga kuat perusahaan tidak punya peta lokasi lahan konsesi itu.

“Kita sangat menyayangkan TPL selalu mengandalkan Izin Kementerian tanpa memikirkan aspek historis yang lebih panjang dan lebih berhak atas lahan, saat bersamaan TPL tidak mampu menunjukkan detail letak dan batas konsesinya, justru lahan yang telah lama menjadi budidaya masyarakat diklaim sebagai milik TPL, tentu ini sangat tidak bisa diterima masyarakat,” ungkapnya.

BACA JUGA:  Sumut Memanas: Ribuan Massa Kepung Kantor Gubernur, Desak Pemerintah Berpihak pada Rakyat Adat

Di sisi lain, TPL kini juga sedang mengincar lahan di Kabupaten Padang Lawas (Palas) lewat skema kemitraan dengan Kelompok Tani Hutan, saat ini rencana dengan Gapoktan Bukit Mas. Rencana ini juga telah memicu konflik di Kecamatan Sosopan, Palas.

Perluasan lahan tanam TPL dengan cara apapun dikhawatirkan tetap menimbulkan konflik dengan masyarakat, bahkan konflik horizontal, antara masyarakat dengan masyarakat, sebagai gejala yang terjadi di Kecamatan Sosopan, Kabupaten Palas.

Beberapa bulan terakhir ini, tuntutan masyarakat agar TPL segera ditutup semakin bergulir aktif. Di antaranya dari HKBP, dan elemen masyarakat Batak Toba dan Angkola di Tapsel.

Desakan penutupan ini kembali mencuat tentu setelah menyaksikan keberadaan PT TPL semakin hari semakin tidak relevan bagi kepentingan kehidupan masyarakat luas dan masa depannya.

Ansor menilai, Pemerintah Provinsi Sumut dan pusat sangat layak mempertimbangkan tuntutan masyarakat ini. Menurutnya, pendapatan yang disumbangkan TPL kepada negara tidak sebanding dengan kerugian moril, materil, dalam aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan.

“Tuntutan masyarakat agar TPL ditutup, dicabut izinnya, saya kira sangat beralasan dan layak dipenuhi pemerintah, karena perusahaan ini telah banyak menimbulkan konflik di Sumatera Utara dan tidak berkesudahan, masyarakat telah banyak mengalami kerugian, hak-hak asasinya dirampas,” tukas Ansor. D||Red

Facebook Comments Box

Follow WhatsApp Channel mediadelegasi.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Musda Golkar Sumut XI Dipastikan Kondusif, Kader Diminta Tetap Solid
Bupati Tapsel: Butuh Amfibi Untuk Atasi Sumbatan Batang Toru
Andar Amin Kantongi 30 Suara Jelang Musda Golkar Sumut
Seskab: Pemerintah Telah Selesaikan Pembangunan Lebih dari 1.000 Unit Rumah Pascabencana di Aceh, Sumut, dan Sumbar dalam Sebulan
Kapolri: Polri Maksimalkan Bantuan untuk Aceh, Sumut, Sumbar yang Terdampak Bencana
Hari Ini Ops Zebra 2025 Digelar di sumut
Itak Pohul-pohul dan Rezeki Arsy, Kekuatan Mediadelegasi
Kadis LHK Sumut Diadukan ke Gubsu dan Inspektorat

Berita Terkait

Minggu, 1 Februari 2026 - 18:45 WIB

Musda Golkar Sumut XI Dipastikan Kondusif, Kader Diminta Tetap Solid

Jumat, 30 Januari 2026 - 13:49 WIB

Bupati Tapsel: Butuh Amfibi Untuk Atasi Sumbatan Batang Toru

Minggu, 18 Januari 2026 - 15:50 WIB

Andar Amin Kantongi 30 Suara Jelang Musda Golkar Sumut

Jumat, 2 Januari 2026 - 21:03 WIB

Seskab: Pemerintah Telah Selesaikan Pembangunan Lebih dari 1.000 Unit Rumah Pascabencana di Aceh, Sumut, dan Sumbar dalam Sebulan

Minggu, 30 November 2025 - 21:34 WIB

Kapolri: Polri Maksimalkan Bantuan untuk Aceh, Sumut, Sumbar yang Terdampak Bencana

Berita Terbaru