Ahli Epidemiologi: Potensi Virus H5N5 Masuk Indonesia Sangat Kecil, Tapi Tetap Waspada

- Penulis

Rabu, 19 November 2025 - 10:39 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Virus H5N5. Foto: Ist.

Ilustrasi Virus H5N5. Foto: Ist.

Medan-Mediadelegasi: Ahli Epidemiologi dari Griffith University Australia, dr. Dicky Budiman, menegaskan bahwa potensi virus H5N5 masuk ke Indonesia sangat kecil. Meskipun demikian, ia mengimbau masyarakat dan pemerintah untuk tetap waspada dan menganggap isu ini serius.

Untuk pertama kalinya, virus H5N5 dilaporkan menginfeksi manusia. Kasus perdana ini ditemukan di Washington, Amerika Serikat, di mana seorang pasien lansia terinfeksi virus yang menyebabkan sakit parah.

Saat ini, pasien tersebut sedang dirawat intensif di rumah sakit. Menurut laporan Washington Post, pasien telah dirawat selama satu minggu dan kondisinya masih belum pulih dari sakitnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sebelum jatuh sakit, pasien mengeluhkan gejala demam tinggi, kebingungan, dan gangguan pernapasan. Setelah melalui serangkaian pengujian dan pemeriksaan yang panjang, pasien tersebut terkonfirmasi terinfeksi virus H5N5. Kasus ini menjadi kasus pertama yang terjadi pada manusia.

Virus H5N5 umumnya menyebar di antara hewan. Ketika virus ini berhasil menginfeksi manusia, ada potensi terjadinya pandemi. Oleh karena itu, dr. Dicky menyarankan agar semua pihak tetap waspada, meskipun kemungkinan virus tersebut masuk ke Indonesia tergolong kecil.

BACA JUGA:  Wamenkes: Kasus TBC di Indonesia Tembus 1 Juta Orang, Pemerintah Targetkan Tuntas Tahun Depan

“Saya sampaikan, untuk masyarakat Indonesia risikonya bukan nol, tapi sangat rendah. Terlebih jika Anda tidak ada kontak dengan unggas. Jadi, tidak perlu panik tapi tetap waspada,” ungkap dr. Dicky, Rabu (19/11/2025).

Terkait dengan potensi masuknya H5N5 ke Indonesia, dr. Dicky menjelaskan bahwa peluang tersebut memang tidak nol, artinya tetap ada potensi, meskipun kecil.

“Faktor yang menaikkan dan menurunkan risiko itu, pertama Indonesia berada di jalur yang banyak dilalui burung migrasi yang bisa membawa avian influenza,” katanya.

“Dan kontak antara burung liar dan unggas peliharaan atau peternakan tradisional itu bisa meningkatkan peluang spillover tadi. Jadi, ada peluang penularan antarhewan,” tambahnya.

Selain itu, faktor lain yang meningkatkan risiko adalah banyaknya peternakan kecil dan pasar unggas hidup (pasar basah) di Indonesia yang belum dikelola dengan baik. Kondisi ini memberikan peluang risiko amplifikasi.

BACA JUGA:  ISPA Mendominasi Penyakit di Pengungsian Banjir Sumbar, Kemenkes dan Dinkes Siagakan Tim Medis

“Terlebih, biosecurity Indonesia itu masih lemah, apalagi kalau bicara soal burung liar,” ungkap dr. Dicky.

Terlepas dari faktor-faktor yang meningkatkan risiko, dr. Dicky juga menyebutkan faktor yang menurunkan risiko masuknya H5N5 ke Indonesia, yaitu Indonesia sebagai negara kepulauan. Selain itu, karena kasus pertama ditemukan di Amerika Serikat, secara geografis Indonesia sangat jauh dari AS.

Oleh karena itu, saran dari dr. Dicky adalah memperkuat surveilans, termasuk deteksi aktif pada unggas, di pesisir, di pasar, dan di peternakan. Menurutnya, hal ini harus dilakukan secara berkala dan terutama berfokus pada area migrasi burung air.

Selain itu, penguatan laboratorium juga diperlukan, termasuk jalur pelaporannya. Mengingat Indonesia memiliki banyak peternakan burung dan ayam, para pengelola peternakan ini perlu dilatih untuk meningkatkan keterampilan biosecurity mereka.

Dengan kewaspadaan dan langkah-langkah pencegahan yang tepat, diharapkan Indonesia dapat terhindar dari ancaman virus H5N5. D|Red.

 

Baca artikel menarik lainnya dari
mediadelegasi.id di GOOGLE NEWS.

Facebook Comments Box

Follow WhatsApp Channel mediadelegasi.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Efektif, Cara Mudah Aktifkan Lagi BPJS Kesehatanmu
ISPA Mendominasi Penyakit di Pengungsian Banjir Sumbar, Kemenkes dan Dinkes Siagakan Tim Medis
Wabah Amoeba Pemakan Otak Mengganas di Kerala India, Ratusan Kasus dan Puluhan Kematian Tercatat
Penularan HIV dari Ibu ke Anak di Indonesia Menurun, Target Eliminasi 2030 Semakin Dekat
Ahli Ungkap: Masalah Rahim Jadi Penyebab Utama Keguguran Berulang yang Sering Terabaikan
Wamenkes: Kasus TBC di Indonesia Tembus 1 Juta Orang, Pemerintah Targetkan Tuntas Tahun Depan
Kemenkes Ungkap Ada 10.300 Puskesmas di Indonesia, Tapi 36 Kecamatan Belum Terjangkau
Kemenkes Ubah Sistem Rujukan: Tak Lagi Berjenjang, Kini Berbasis Kompetensi

Berita Terkait

Sabtu, 7 Februari 2026 - 12:21 WIB

Efektif, Cara Mudah Aktifkan Lagi BPJS Kesehatanmu

Sabtu, 6 Desember 2025 - 13:34 WIB

ISPA Mendominasi Penyakit di Pengungsian Banjir Sumbar, Kemenkes dan Dinkes Siagakan Tim Medis

Sabtu, 6 Desember 2025 - 11:44 WIB

Wabah Amoeba Pemakan Otak Mengganas di Kerala India, Ratusan Kasus dan Puluhan Kematian Tercatat

Rabu, 26 November 2025 - 14:44 WIB

Penularan HIV dari Ibu ke Anak di Indonesia Menurun, Target Eliminasi 2030 Semakin Dekat

Jumat, 21 November 2025 - 18:12 WIB

Ahli Ungkap: Masalah Rahim Jadi Penyebab Utama Keguguran Berulang yang Sering Terabaikan

Berita Terbaru

Foto: Suasana saat proses pemeriksaan dan penempatan khusus (patsus) terhadap Kompol DK di lingkungan Polda Sumatera Utara.

Sumatera Utara

Video Diduga Pakai Narkoba Viral, Kompol DK Ditempatkan di Patsus

Kamis, 30 Apr 2026 - 15:16 WIB