Tanjungbalai-Mediadelegasi: Wali Kota Tanjungbalai, Mahyaruddin Salim, turun langsung menyambangi Markas Kepolisian Resor (Mapolres) Tanjungbalai, Sumatera Utara.
Kehadiran sosok nomor satu di Pemkot Tanjungbalai ini bertujuan memantau dari dekat jalannya penanganan kasus kejahatan seksual terhadap anak.
Mahyaruddin menegaskan bahwa penanganan kasus dugaan pencabulan anak di bawah umur yang melibatkan oknum guru ASN dan suaminya harus berjalan transparan.
Pihaknya ingin memastikan seluruh proses hukum di kepolisian dapat memenuhi rasa keadilan bagi pihak korban dan masyarakat luas.
Langkah responsif ini sengaja diambil oleh Wali Kota guna meredam gejolak yang sempat memanas di tengah warga.
Sebelumnya, aksi pengerusakan dan pengepungan rumah terduga pelaku sempat terjadi di Kecamatan Teluk Nibung pada Rabu (22/7/2026) malam.
Kehadiran pimpinan daerah di kantor polisi menjadi sinyal tegas bahwa Pemkot Tanjungbalai menolak keras segala bentuk kekerasan anak.
Tindakan tak bermoral ini dinilai sangat mencoreng marwah lingkungan pendidikan, terutama karena diduga melibatkan oknum Aparatur Sipil Negara.
Selain fokus mengawal jalannya penegakan hukum, kunjungan ini bertujuan untuk menenangkan tensi emosi massa yang sedang tinggi.
Wali Kota mengimbau seluruh lapisan masyarakat agar menahan diri dan menyerahkan sepenuhnya proses hukum kepada jajaran kepolisian.
Di sisi lain, pasangan suami istri yang diduga menjadi pelaku berhasil dievakuasi petugas dari kepungan ratusan warga.
Petugas kepolisian langsung memboyong pasutri tersebut ke Mapolres Tanjungbalai untuk mengamankan situasi dari potensi aksi main hakim sendiri.
Kasi Humas Polres Tanjungbalai, Ipda Ruslan, mengonfirmasi bahwa pasangan suami istri tersebut kini tengah menjalani pemeriksaan marathon.
Proses pemeriksaan berlangsung secara tertutup di bawah penanganan khusus Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Tanjungbalai.
Berdasarkan hasil penyelidikan sementara, aksi pencabulan tersebut diduga kuat telah berlangsung selama beberapa bulan terakhir.
Para pelaku disinyalir melancarkan aksi bejatnya dengan modus membujuk serta meminjamkan gawai atau ponsel pintar kepada para korban.
Ipda Ruslan membenarkan bahwa kedua terduga pelaku masih terus dimintai keterangan oleh tim penyidik.
Pihak kepolisian bekerja secara intensif guna mendalami seluruh detail rangkaian peristiwa pidana yang disangkakan kepada pasangan suami istri tersebut.
Perhatian terhadap penanganan kasus keji ini juga datang dari Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) Kabupaten Asahan.
Lembaga perlindungan ini menyatakan siap mengawal seluruh proses penegakan hukum sekaligus mendampingi proses pemulihan trauma para korban.
Ketiga pihak penegak hukum dan lembaga terkait sepakat bahwa prioritas utama saat ini adalah pemulihan kondisi psikologis korban.
Pendampingan mental mendalam sangat dibutuhkan untuk memulihkan trauma berat yang dialami oleh anak-anak di bawah umur tersebut.
Saat ini, penyidik Kepolisian Resor Tanjungbalai terus mengumpulkan fakta dengan memeriksa deretan saksi dari pihak pelapor.
Upaya pengumpulan barang bukti ini dilakukan secara maraton guna memperkuat berkas penyidikan sebelum menetapkan status hukum resmi bagi kedua pelaku. D|Red.
Baca artikel menarik lainnya dari
mediadelegasi.id di GOOGLE NEWS.
Penulis : Tagor
Editor : Alan






