Linge-Mediadelegasi: Puluhan kepala keluarga di Desa Reje Payung, Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah, memilih meninggalkan tempat tinggal mereka untuk mengungsi, Kamis (1/10/2026). Keputusan ini diambil setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut dalam beberapa hari terakhir dan menyebabkan aliran sungai meluap mengancam permukiman warga.
Pilihan untuk mengungsi lebih dini didorong oleh pengalaman pahit yang dialami warga saat bencana banjir besar melanda kawasan tersebut pada November 2025 lalu. Saat itu, desa terisolasi total selama berhari-hari, pasokan bahan makanan menipis, dan akses layanan kesehatan terputus total. Kini warga tidak ingin mengambil risiko yang sama terulang kembali.
Pantauan langsung di lokasi menunjukkan suasana desa tampak lengang. Sebagian besar warga telah menyingkir ke tempat yang lebih aman. Tersisa beberapa orang yang sibuk merapikan barang-barang berharga, mengemas pakaian, peralatan dapur, serta kebutuhan pokok untuk dibawa bersama keluarga.
Untuk menyeberangi luapan sungai yang kian meninggi, warga terpaksa menggunakan perahu karet. Mereka berangkat dengan membawa perbekalan seadanya, menyeberangi arus yang cukup deras menuju desa tetangga yang berada di posisi lebih tinggi dan aman.
Sebagian besar warga yang mengungsi kini menumpang di rumah sanak saudara atau kerabat yang tinggal di kawasan yang tidak terancam luapan air. Mereka bertekad tidak akan pulang sebelum cuaca membaik dan debit air sungai dipastikan kembali turun ke tingkat aman.
Intensitas hujan yang tinggi selama beberapa hari terakhir menyebabkan debit air sungai melonjak tajam. Air mulai merendam jalan utama yang menghubungkan desa dengan pusat kecamatan, serta memutus akses keluar-masuk warga. Kondisi ini semakin memperkuat kekhawatiran akan terjadinya banjir susulan.
Perangkat Desa Reje Payung, Kasran, menjelaskan bahwa warga memutuskan pergi demi keselamatan keluarga, terutama anak-anak dan lansia. “Warga memilih meninggalkan desa demi keselamatan keluarga, menyusul kondisi luapan air sungai yang makin tinggi dan kekhawatiran adanya tanggul jebol,” ujar Kasran.
Ia menambahkan bahwa pengalaman traumatis saat banjir besar November lalu masih membekas kuat. Saat itu, warga terjebak tanpa bantuan selama berhari-hari, sulit mendapatkan makanan, obat-obatan, maupun pertolongan medis. Kerugian materiil dan penderitaan yang dialami membuat warga lebih waspada kali ini.
Keputusan mengungsi lebih awal dinilai tepat untuk mencegah korban jiwa sekaligus menghindari isolasi kembali. Warga berharap pemerintah daerah dapat segera turun memantau situasi, memastikan kebutuhan dasar terpenuhi, serta memantau ketinggian air sungai secara berkala.
Hingga kini belum ada perkiraan pasti kapan warga dapat kembali ke rumah masing-masing. Mereka menunggu laporan cuaca serta perkembangan kondisi aliran sungai. Keselamatan keluarga menjadi prioritas utama di tengah ketidakpastian yang dihadapi.
Pemerintah desa telah berkoordinasi dengan pihak kecamatan agar situasi terpantau terus. Warga yang mengungsi juga saling berkomunikasi untuk memastikan tidak ada warga yang tertinggal sendirian di desa yang mulai terancam air.
Semoga hujan segera reda, air sungai cepat surut, dan warga dapat kembali ke rumah dengan selamat. Pengalaman ini menjadi pengingat pentingnya kesiapsiagaan bencana serta perlunya perbaikan pengendalian aliran sungai agar kejadian serupa tidak terus berulang. D|Red.
Baca artikel menarik lainnya dari
mediadelegasi.id di GOOGLE NEWS.
Penulis : Tagor
Editor : Alan







