Jakarta-Mediadelegasi: Gubernur Sumatera Utara Muhammad Bobby Afif Nasution memaparkan lima prioritas utama pembangunan daerah kepada Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy di Jakarta, Kamis (8/10/2026). Audiensi ini bertujuan menyelaraskan rencana daerah dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2025–2029 sekaligus memohon dukungan pemerintah pusat.
Lima prioritas yang diajukan meliputi pembangunan RSU Haji Medan berstandar internasional, afirmasi pembangunan Kepulauan Nias, pengembangan koridor ekonomi Belawan–Kualatanjung–Seimangkei, keterpaduan pusat pertumbuhan wilayah, serta percepatan pemulihan pascabencana.
Bobby menegaskan posisi strategis Sumut sebagai pintu gerbang Indonesia bagian barat dengan penduduk sekitar 15,8 juta jiwa. Pada triwulan II 2026, PDRB Sumut mencapai Rp341,05 triliun, tumbuh 5,06 persen, berkontribusi 23 persen terhadap PDB Sumatera dan 5,21 persen terhadap PDB Nasional. Potensi ini menjadikan Sumut sebagai salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional.
Sesuai RPJMN 2025–2029, Sumut ditetapkan sebagai wilayah strategis pengembangan bioindustri dan pariwisata global, mencakup Metropolitan Medan, kawasan industri, Danau Toba, serta pusat pertumbuhan baru lainnya. Tantangan saat ini adalah menyatukan potensi sumber daya alam menjadi ekosistem ekonomi yang terintegrasi guna mendorong investasi dan lapangan kerja.
Prioritas pertama adalah pembangunan RSU Haji Medan menjadi rumah sakit rujukan berstandar internasional. Proyek ini telah mendapatkan komitmen pendanaan dari EDCF Pemerintah Korea dengan syarat sangat ringan — bunga 0,05 persen selama 40 tahun dengan masa tenggang 10 tahun. Namun proyek belum masuk dalam Daftar Rencana Pinjaman Luar Negeri Jangka Menengah 2025–2029. Mengingat perjanjian kerja sama Indonesia–Korea berakhir 31 Desember 2026, percepatan sangat mendesak agar peluang ini tidak terlewat. Usulan re-entry telah disampaikan ke Bappenas pada 22 September 2026.
Kedua, program afirmasi pembangunan Kepulauan Nias 2027–2029. Kawasan ini kaya akan pariwisata, kelautan, dan perkebunan, namun terkendala konektivitas, biaya logistik, serta kesenjangan infrastruktur. Diperlukan kepastian anggaran jangka panjang untuk membangun akses, layanan dasar, penguatan SDM, hilirisasi ekonomi lokal, serta menjadikan Gunungsitoli sebagai pusat logistik dan pertumbuhan wilayah. Insentif khusus diharapkan menarik investasi ke daerah tertinggal ini.
Ketiga, pengembangan koridor ekonomi Belawan–Kualatanjung–Seimangkei sebagai satu kesatuan. Belawan difungsikan sebagai pintu gerbang perdagangan, Kualatanjung sebagai pusat internasional, dan Seimangkei sebagai kawasan hilirisasi industri. Diperlukan peta jalan dan target jelas 2027–2029 serta pengintegrasian pendanaan lintas kementerian agar potensi ini berjalan serentak dan saling menguatkan.
Keempat, keterpaduan pembangunan antarwilayah agar pusat pertumbuhan saling terhubung dan tidak berdiri sendiri. Kelima, program rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana 2026–2028 yang berfokus pada pemulihan hunian, infrastruktur, konektivitas, layanan dasar, pertanian, serta pemulihan ekonomi warga yang terdampak.
Bobby memohon Bappenas mengoordinasikan seluruh kementerian dan lembaga agar setiap prioritas memiliki target, pendanaan, penanggung jawab, dan tahapan pelaksanaan yang terukur. Dukungan ini juga diharapkan memperkuat kerja sama pembangunan terintegrasi di 10 provinsi se-Sumatera demi kesejahteraan bersama. D|Red.
Baca artikel menarik lainnya dari
mediadelegasi.id di GOOGLE NEWS.
Penulis : Andre S
Editor : Alan







