Menanggapi hal itu, Edy Rahmayadi menjelaskan bahwa pelayanan kesehatan tanpa dipungut biaya alias gratis dan pembelian Medan Club adalah dua hal yang berbeda.
Disebutkannya, UHC merupakan sistem penjaminan kesehatan yang memastikan setiap warga memiliki akses yang adil terhadap pelayanan kesehatan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif, dan bermutu, di tengah keterbatasan dana Badan Pengelola Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan.
BPJS saja yang menggunakan dana APBN, kata Edy, belum bisa menjadikan jawaban untuk mengatasi persoalan pelayanan kesehatan di Sumut.
Terkait hal itu, ia mempertanyakan bagaimana Pemerintah Kota Medan bisa menerapkan layanan berobat gratis kepada masyarakat setempat melalui program UHC.
“Itu yang harus kita diskusikan bagaimana caranya sehingga pelayanan kesehatan bisa kita atasi, jangan disinggung dengan Medan Club. Medan Club itu bonusnya Sumatera Utara,” paparnya.
Namun, sebelum Edy memaparkan lebih lanjut soal Medan Club sebagai bonus, tim panelis debat memberitahukan bahwa waktu yang diberikan kepada pasangan Edy-Hasan untuk menjawab sudah habis.
Debat perdana ini melibatkan sembilan panelis dari berbagi kalangan yang terdiri profesional, akademisi dan tokoh masyarakat Sumut.
Ketua KPU Sumut Agus Arifin mengatakan debat ini merupakan salah satu tiga dari debat publik yang selenggarakan KPU Sumut.
“Debat kedua dan ketiga akan kita laksanakan 6 November dan 13 November 2024. Ini merupakan debat pertama yang kita laksanakan,” ujar Agus.
Dia mengatakan debat publik ini merupakan bahan pertimbangan bagi masyarakat dalam memilih pemimpin Sumut dengan mendengarkan visi-misi dan program pasang calon gubernur dan wakil gubernur.
“KPU Sumut akan memberi ruang bagi pasangan calon untuk menyakini masyarakat untuk memilih dengan memaparkan visi-misi serta program-program unggulan selama debat publik berlangsung,” tuturnya. D|Red