Ilmuwan Jepang Temukan ‘Kembaran’ COVID-19 di Kelelawar Brasil, Waspada Potensi Mutasi!

- Penulis

Jumat, 7 November 2025 - 16:16 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Virus Corona baru pada kelelawar di Brasil yang diberi nama BRZ batCoV. Foto: Ist.

Virus Corona baru pada kelelawar di Brasil yang diberi nama BRZ batCoV. Foto: Ist.

Medan-Mediadelegasi: Para ilmuwan dari Departemen Virologi Molekuler Osaka University Jepang telah menemukan virus corona baru pada kelelawar di Brasil. Virus yang diberi nama BRZ batCoV ini memiliki fitur genetik yang mirip dengan SARS-CoV-2, virus penyebab COVID-19, termasuk furin cleavage site, bagian penting yang memungkinkan virus menembus sel inang.

BRZ batCoV ditemukan pada spesies kelelawar berkumis yang umum di sebagian besar wilayah Amerika Latin. Para ilmuwan menduga bahwa patogen ini telah lama menyebar tanpa disadari karena terbatasnya pengambilan sampel di wilayah tersebut.

“Penemuan di Brasil menunjukkan bahwa fitur molekuler yang serupa dapat muncul secara independen dalam garis keturunan virus yang berbeda… melalui proses evolusi alami,” kata Dr. Kosuke Takada, salah satu penulis pra-cetak yang belum ditinjau sejawat, seperti dikutip dari The Telegraph.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Penemuan ini menimbulkan pertanyaan, apakah BRZ batCoV berpotensi mengancam manusia? Para peneliti menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada bukti bahwa virus yang ditemukan setelah pengambilan sampel jaringan usus dari 70 ekor kelelawar di negara bagian Maranhão dan São Paulo, Brasil, dapat menginfeksi manusia maupun mamalia lain.

BACA JUGA:  Penularan HIV dari Ibu ke Anak di Indonesia Menurun, Target Eliminasi 2030 Semakin Dekat

Sebaliknya, temuan ini justru menegaskan pentingnya program pemantauan satwa liar (wildlife surveillance) dan menunjukkan adanya kesenjangan dalam sistem pemantauan global. Selama ini, sebagian besar kegiatan pengambilan sampel masih berfokus di wilayah Asia, Afrika, dan Timur Tengah, tempat virus-virus corona berbahaya seperti SARS-CoV-1 dan MERS-CoV pertama kali muncul.

Menurut Dr. Kosuke Takada, peneliti pascadoktoral di University of Sydney, penelitian ini menyoroti potensi kemunculan patogen baru sebenarnya tersebar di seluruh dunia, termasuk di wilayah yang masih jarang diteliti seperti Amerika Selatan.

“Namun, mendeteksi virus bukan berarti virus tersebut berbahaya. Risiko yang sebenarnya bergantung pada faktor ekologi dan aktivitas manusia, seperti seberapa sering manusia berinteraksi dengan satwa liar yang terinfeksi,” kata Takada.

BACA JUGA:  Kemenkes Ungkap Ada 10.300 Puskesmas di Indonesia, Tapi 36 Kecamatan Belum Terjangkau

Oleh karena itu, para ilmuwan menekankan pentingnya memperluas pemahaman tentang keragaman virus di wilayah-wilayah yang kurang diteliti. Dengan demikian, sistem peringatan dini dapat diperkuat dan penilaian risiko yang lebih berbasis bukti terhadap virus-virus yang layak mendapat perhatian lebih dapat dilakukan.

Penemuan BRZ batCoV menjadi pengingat bahwa ancaman virus baru selalu ada dan dapat muncul dari wilayah mana pun di dunia. Investasi dalam penelitian dan pemantauan satwa liar sangat penting untuk mencegah pandemi di masa depan.

Selain itu, kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga jarak aman dari satwa liar juga perlu ditingkatkan. Interaksi yang terlalu dekat dengan satwa liar dapat meningkatkan risiko penularan virus dari hewan ke manusia. D|Red.

 

Baca artikel menarik lainnya dari
mediadelegasi.id di GOOGLE NEWS.

Facebook Comments Box

Follow WhatsApp Channel mediadelegasi.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Efektif, Cara Mudah Aktifkan Lagi BPJS Kesehatanmu
ISPA Mendominasi Penyakit di Pengungsian Banjir Sumbar, Kemenkes dan Dinkes Siagakan Tim Medis
Wabah Amoeba Pemakan Otak Mengganas di Kerala India, Ratusan Kasus dan Puluhan Kematian Tercatat
Penularan HIV dari Ibu ke Anak di Indonesia Menurun, Target Eliminasi 2030 Semakin Dekat
Ahli Ungkap: Masalah Rahim Jadi Penyebab Utama Keguguran Berulang yang Sering Terabaikan
Ahli Epidemiologi: Potensi Virus H5N5 Masuk Indonesia Sangat Kecil, Tapi Tetap Waspada
Wamenkes: Kasus TBC di Indonesia Tembus 1 Juta Orang, Pemerintah Targetkan Tuntas Tahun Depan
Kemenkes Ungkap Ada 10.300 Puskesmas di Indonesia, Tapi 36 Kecamatan Belum Terjangkau

Berita Terkait

Sabtu, 7 Februari 2026 - 12:21 WIB

Efektif, Cara Mudah Aktifkan Lagi BPJS Kesehatanmu

Sabtu, 6 Desember 2025 - 13:34 WIB

ISPA Mendominasi Penyakit di Pengungsian Banjir Sumbar, Kemenkes dan Dinkes Siagakan Tim Medis

Sabtu, 6 Desember 2025 - 11:44 WIB

Wabah Amoeba Pemakan Otak Mengganas di Kerala India, Ratusan Kasus dan Puluhan Kematian Tercatat

Rabu, 26 November 2025 - 14:44 WIB

Penularan HIV dari Ibu ke Anak di Indonesia Menurun, Target Eliminasi 2030 Semakin Dekat

Jumat, 21 November 2025 - 18:12 WIB

Ahli Ungkap: Masalah Rahim Jadi Penyebab Utama Keguguran Berulang yang Sering Terabaikan

Berita Terbaru

Foto: Suasana saat proses pemeriksaan dan penempatan khusus (patsus) terhadap Kompol DK di lingkungan Polda Sumatera Utara.

Sumatera Utara

Video Diduga Pakai Narkoba Viral, Kompol DK Ditempatkan di Patsus

Kamis, 30 Apr 2026 - 15:16 WIB