Pihaknya juga telah melakukan sejumlah webinar yang mengangkat tema seputar, antara lain banjir bandang, isu-isu strategis pembangunan berkelanjutan di kawasan Danau Toba, pembangunan ekonomi hijau serta konflik agrarian.
Disebutkannya, selama ini telah banyak dilakukan reboisasi di kawasan ekosistem Danau Toba, namun kenyataannya hingga saat ini hasil dari penghijauan itu belum tampak optimal, bahkan hampir setiap tahun terjadi kebakaran pada lahan-lahan yang telah direboisasi itu.
Oleh karena itu, kata dia, upaya penyelamatan ekosistem Danau Toba mutlak dilakukan secara berkelanjutan dengan berorientasi pendekatan atau tindakan preventatif dan antisipatif.
Rawan bencana
Tindakan itu perlu diaktualisasikan, antara lain membangun infrastruktur di titik-titik rawan bencana, melengkapi kesediaan sarana pemadam kebakaran termasuk helikopter, ketersediaan posko informasi bencana, edukasi yang berkelanjutan di tengah masyarakat mulai dari pelajar tingkat taman kanak-kanak hingga dewasa.
Selain itu, mengaktifkan kembali kehadiran dan peranan Kelompok Masyarakat Peduli Api, yang pada masa lalu relatif dinilai berhasil mengendalikan kebakaran hutan dan lahan masyarakat serta penegakan pelaksanaan aturan-aturan hukum yang berlaku.
Khusus untuk mengurangi tingkat pencemaran limbah cair ke Danau Toba, menurutnya, IPAL yang telah dibangun oleh pemerintah sebaiknya difungsikan dengan pengelolaan atau manajemen.
Lebih lanjut Prof Binari mengemukakan, dalam rangka HUT ke 3 KMDT, organisasi ini juga akan menggelar Rakernas ke-3 di Jakarta, 29-30 September 2022.
Terkait peringatan HUT ke3 KMDT, pihaknya sebelum pelaksanaan Rakernas ketiga KMDT akan melakukan sejumlah aksi peduli lingkungan, seperti upaya penyelamatan ekosistem Danau Toba yang meliputi kegiatan penaburan bibit ikan, penanaman pohon kembali di kawasan hutan yang baru-baru ini mengalami bencana kebakaran.
Kegiatan yang akan dipusatkan di Pusuk Buhit itu digelar sebagai hasil dari kerja sama antara KMDT dengan Kodam I/BB, Polda Sumut dan Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Provinsi Sumut.
Oleh karena itu, kata dia, upaya penyelamatan ekosistem Danau Toba mutlak dilakukan secara berkelanjutan dengan berorientasi pendekatan atau tindakan preventatif dan antisipatif.
Tindakan itu perlu diaktualisasikan, antara lain membangun infrastruktur di titik-titik rawan bencana, melengkapi ketersediaan sarana pemadam kebakaran termasuk helikopter, ketersediaan posko informasi bencana, edukasi yang berkelanjutan ditengah masyarakat mulai dari pelajar tingkat taman kanak-kanak hingga dewasa.
Selain itu, mengaktifkan kembali kehadiran dan peranan Kelompok Masyarakat Peduli Api, yang pada masa lalu relatif dinilai berhasil mengendalikan kebakaran hutan dan lahan masyarakat serta penegakan pelaksanaan aturan-aturan hukum yang berlaku.
Khusus untuk mengurangi tingkat pencemaran limbah cair ke Danau Toba, menurutnya, IPAL yang telah dibangun oleh pemerintah sebaiknya difungsikan dengan pengelolaan atau manajemen. D|Med-24