“Membangun Jiwa dan Raga Bangsa Jangan cuma jadi nyanyian atau selogan belaka dalam kibaran bendera Indonesia Raya”
UPAYA membersihkan hati, mengendalikan nafsu dan mencerdaskan pemikiran dan pemahaman tentang banyak hal untuk terus meningkatkan daya nalar yang tajam guna dapat dimanfaatkan dalam mengambil kebijakan serta sikap yang diwujudkan dengan perbuatan yang nyata, merupakan laku spiritual sebagai upaya mendekatkan diri kepada Tuhan.
Orientasi dari hidup antara jiwa dan raga, dunia dan akhirat, material dengan spiritual perlu ditata dalam keseimbangan dari esensi luar (fisik) dan esensi dalam (jiwa) minimal setara, jika pun tidak bisa lebih mengutamakan jiwa dibanding raga dalam capaian yang dapat ditakar dengan kualitas, bukan kuantitas.
Karenanya, segenap tingkah laku, sikap dan perbuatan harus senantiasa terkontrol, tidak sampai over confident sehingga bisa menimbulkan kejumawaan, atau bahkan cenderung menganggap orang lain tidak lebih penting dari diri kita sendiri.
Sikap jumawa dan sombong ini bisa karena merasa lebih tua (senior), merasa lebih kaya, merasa lebih pintar, merasa lebih tinggi derajat (pangkat) karena berasal dari keluarga tertentu yang memang terpandang dalam masyarakat atau lingkungannya seperti dalam ketentaraan, kepegawaian atau di lingkungan perusahaan.
Segenap upaya membersihkan hati itu penting dan perlu agar sikap jujur, ikhlas (bahkan nerimo) bisa menjadi perilaku yang diterapkan dalam kehidupan nyata seperti bercampur gaul dengan warga masyakarat lain yang lebih luas dan kompleks perangai maupun pembawaan dari masing-masing orang. Hingga dengan begitu, sifat dan sikap yang telah menjadi mampu membentuk kepribadian yang baik dan terpuji — meski belum mencapai tingkat yang mulia — bisa menjadi tauladan bagi banyak orang.