Menangkal Transisi Moral di Era Global

Menangkal Transisi Moral di Era Global
Penulis | Dr Ficki Padli Pardede MA | Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Al Hikmah Tebing Tinggi. Foto: dok-pardede

Memastikan anak-anak memiliki kesibukan dalam mengisi pendidikan, penempahan skil dan ibadah, penambahan wawasan serta pemberian pemahaman etika dalam berinteraksi dengan masyarakat.

Membatasi anak-anak terlibat dalam aplikasi sosial media, game dan video-video yang membatasi umur.

Mengatur waktu berinteraksi dalam rumah secara langsung, tidak setiap hirupan napasnya, mata terpelotot ke layar ponsel. Kontrol orangtua terhadap ponsel sangat diperlukan, sehingga anak-anak tetap mematuhi keterbatasan konten dewasa.

Bacaan Lainnya

Miris, ketika seorang emak justru menyuguhkan ponsel kepada bocah agar terpaku oleh game di ponsel, dan saat itu emak atau ayah sang bocah juga membisu tenang dengan ponselnya. Jangan membiasakan, mendiamkan anak-anak dengan suguhan ponsel.

Demikian dengan peranan guru di sekolah. Penting untuk terus memahamkan anak didiknya dengan dampak negative penggunaan ponsel secara berlebihan.

Memastikan, penggunaan ponsel sebagai sarana belajar di rumah, misalnya untuk kepentingan pertemuan secara dalam jaringan untuk waktu tertentu, dan tetap tidak memperkenankan membawa ponsel ke sekolah.

Teknologi ponsel cerdas yang kini menjadikan banyak kemudahan sebenarnya dapat diseimbangkan dengan aktivitas yang bermanfaat. Misalnya, untuk anak-anak di rumah dengan menjadwalkan kebiasaan tidur siang hari, les tambahan pada sore hari, mengaji, latihan beladiri, belajar menyelesaikan pekerjaan rumah dari sekolah, tidur malam tepat waktu, dan berangkat ke sekolah.

Dengan demikian, waktu untuk penggunaan ponsel secara tidak sadar akan terbatasi. Transisi moral yang mengancam kehidupan generasi saat ini dan masa mendatang harus ditangkal, agar budaya ketimuran yang kita anut tidak memudar, kehidupan bersosial masyarakat yang menjadi bagian dari budaya kita, hingga pengamalan ajaran agama serta mempertahankan kearifan lokal jangan akhirnya tersingkirkan oleh arus global secara dahsyat. *

Penulis | Dr Ficki Padli Pardede MA | Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Al Hikmah Tebing Tinggi

Pos terkait