“Saya berkesimpulan, bahwa madrasah atau RA telah menyiapkan trik pola ajar dan kampanye protokoler kesahatan secara ketat bagi warga madrasah,” ujarnya.
Pandangan nyata, katanya, tak bisa ditutupi. Seberapa persenkah warga Deliserdang yang menggunakan masker? Bahkan masih banyak warga yang tidak punya masker dan enggan memakai masker.
“Ketika RA menerapkan protokoler kesehatan secara ketat, orangtua dan anak otomatis berlatih memakai masker, terbiasa mencuci tangan dan menjaga jarak, karena itu syarat ketat yang diterapkan madrasah,” ungkapnya seraya bertanya, kenapa peluang pembelajaran bagi masyarakat ini tidak digunakan pemerintah, malah membatasi sekolah tatap muka di kelas.
Ini Adalah Dampak
Nurhafsah Ritonga berharap, semoga Covid-19 segera berlalu, kesulitan perekonomian dapat pulih, sehingga orangtua tidak kesulitan membiayai anak-anaknya bersekolah, dan para guru dapat bertahan hidup meski bukan sebagai asnab (penerima) Bantuan Langsung Tunai (BLT) maupun Bantuan Sosial Tunai (BST).
“Mudah-mudahan pandemi Covid-19 tidak sampai merusak tatanan pendidikan yang mengkuatirkan kepada lost generation jika berlama-lama dengan kondisi darurat seperti sekarang ini,” katanya.
Lebih jauh tentang kekuatiran lost generation di masa mendatang, Nurhafsah mengungkapkan pengamatannya di tingkat desa. “Kini anak-anak usia sekolah cenderung mengabaikan tidur cepat tepat waktu, karena tidak harus bangun pagi-pagi untuk bergegas ke sekolah sebagaimana sebelum darurat,” katanya.
Pengamatannya, pada malam hari mereka nongkrong main game online, atau keluyuran tak tentu arah. Sementara pengawasan orangtua kian melemah, karena seharian keduanya harus bekerja mengendalikan perekonomian keluarga dari kesulitan.
“Ini adalah dampak, semoga kekuatiran lost generation tidak sampai mendera bangsa,” ungkapnya. D|Red-02