Stabat-Mediadelegasi: Sesepuh Gerakan Pemuda Ansor H Syahrial AMS MHum menaruh salut atas ketegasan sikap PW GP Ansor Sumut diketuai Adlin Umar Yusri Tambunan pascapenetapan 10 Pahlawan Nasional 2025 termasuk anugerah kepada Soeharto Presiden Kedua RI.
Syahrial AMS saksi atau pelaku sejarah di era September 1965 ini kepada Mediadelegasi, Rabu (19/11), di Stabat, Sumatera Utara mengatakan, bangga atas dukungan PW GP Ansor Sumut melalui diskusi publik, memperingati hari Pahlawan tahun 2025, Senin 17 Nopember 2025 di Medan.
“Diskusi publik ini merupakan bentuk apresiasi untuk negeri, apresiasi untuk pahlawan yang menghadirkan kalangan akademisi, aktivis pemuda, tokoh masyarakat serta Gen Z,” kata Syahrial AMS.
Menurutnya, wacana pro-kontra sempat menguap ke permukaan, terkait jelang penetapan Soeharto Presiden Kedua RI dan nama Sarwo Edi Wibowo.
Syahrial bercerita untuk diketahui warga Nahdlatul Ulama (NU). Kudeta oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) dengan G30SPKI masa silam digagalkan Soeharto (TNI AD).
“Pada 4 Oktober 1965 PBNU meminta pembubaran PKI dan setelah berlanjut dengan tindakan tegas pasukan RPKAD pimpinan Sarwo Edi memburu tokoh-tokoh PKI sampai ke Jawa Tengah dan disambut oleh pasukan Banser Ansor seluruh Jawa,” katanya.
Disebutkan Syahrial juga, penghancuran PKI dan antek-anteknya di bawah komando HM Yusuf Hasyim pamannya Gusdur (Ketum PP GP Ansor waktu itu). “Di Sumatera Utara penghancuran PKI dimulai 12 Oktober 1965 ditandai dengan Rapat Akbar Umat Islam yang Ketua Panitianya waktu itu, Walikota Medan Aminurrasyid (NU) dengan pembicaranya H Abir Zuhdi Daulay (Ketua 1 NU Sumut) dan pembacaan Fatwa Rois Suriah NU SU Tuan Syech H Afifudin dengan fatwanya, menghalalkan darah PKI,” katanya.
Jadi jelas, lanjut Syahrial AMS, dengan adanya sikap Ribka Ciptaning angota DPR dari PDI yg menyatakan bahwa penghancuran/pembunuhan anggota adalah pelanggaran HAM dan dosa Pak Harto serta akan menghadirkan jutaan anak-anak PKI di pengadilan yang mengadili dirinya karena memitnah Pak Harto, maka warga NU/Banser Ansor dan umat Islam harus juga siap menghadapi aksi balas dari anak-anak organisasi terlarang itu serta bahaya latennya.
Perlu diingat, katanya, mereka saat tragedi itu berusia sekitar enam tahun, kini berusia antara 60 ke 70 tahun.
Sekadar untuk diketahui, penganugerahan dan penetapan 10 nama tokoh menjadi Pahlawan Nasional oleh Presiden RI Prabowo Subianto, adalah KH Abdul Rahman Wahid (Presiden ke 4 Indonesia dan tokoh Nahdlatul Ulama), Jenderal Besar TNI HM Soeharto (Presiden ke 2 Indonesia), Marsinah (Aktivis buruh), Prof Dr Mochtar Kusuma atmaja (Pakar hukum dan diplomat), Hj Rahmah El Yunusiyyah (tokoh pendidik dari Sumatera Barat).
Kemudian, Jenderal TNI (Purn) Sarwo Edhi Wibowo (tokoh Militer), Sultan Muhammad Salahuddin (tokoh dari Bima, NTT), Syaikhona Muhammad Kholil (Ulama Besar dari Bangkalan, Madura), Tuan Rondahaim Saragih (tokoh dari Simalungun, Sumut), Zainal Abidin Syah (Sultan Tidore ke 37 dari Maluku Utara). D|Red-06






