Medan-Mediadelegasi: Aksi mahasiswa Institut Sains dan Teknologi TD Pardede (ISTP) Medan yang menuntut pembukaan kembali kampus mendapat tanggapan dari ahli waris DR TD Pardede dan Hermina Napitupulu. Ahli waris menilai tuntutan mahasiswa seharusnya ditujukan kepada yayasan yang dipimpin Hana Nelsri Kaban serta Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI), bukan kepada pemilik aset.
Melalui kuasa hukumnya, Robert Sihotang SH MH, ahli waris menjelaskan bahwa sejak penyerahan pengelolaan secara sukarela oleh Yayasan Perguruan Darma Agung (YPDA) yang dipimpin Partahi Siregar pada Mei 2026, tanggung jawab terhadap operasional kampus dan keberlangsungan pendidikan mahasiswa berada di bawah yayasan yang saat ini dipimpin Hana Nelsri Kaban.
“Jadi, soal tuntutan yang diminta oleh mahasiswa dalam aksi di depan kampus ISTP itu salah alamat. Artinya, seharusnya mahasiswa meminta tanggung jawab dari pihak rektorat ISTP maupun kepada yayasan yang diakui LLDIKTI, yaitu yayasan yang baru, bukan kepada ahli waris,” tegas Robert, Jumat (3/7/2026).
Ia mengatakan, tanah dan bangunan yang selama ini digunakan sebagai kampus ISTP merupakan aset milik ahli waris DR TD Pardede dan Hermina Napitupulu yang sebelumnya dipergunakan oleh Yayasan Perguruan Darma Agung (YPDA) yang dipimpin Partahi Siregar.
Menurutnya, status kepemilikan aset tersebut telah memiliki kekuatan hukum tetap berdasarkan Putusan Pengadilan Negeri Medan Nomor 261/Pdt.G/2021/PN.Mdn tanggal 2 Juni 2021 yang dikuatkan Putusan Pengadilan Tinggi Medan Nomor 104/PDT/2023/PT.Mdn tanggal 9 Maret 2023, serta Putusan Mahkamah Agung RI Nomor 2970 K/Pdt/2024 tanggal 21 Agustus 2024.
Adapun para ahli waris tersebut terdiri atas ahli waris almh Sariaty Pardede, Emmy Andriani Pardede, ahli waris Alm Rudolf Matzuoka Pardede, Anny Pardede, ahli waris Alm Johny Pardede, dan Reny Puspita Pardede.
“Putusan itu sudah berkekuatan hukum tetap. Jadi, penutupan dilakukan untuk mengamankan aset yang ada di dalamnya. Apabila ada mahasiswa yang ingin masuk dengan alasan apa pun, terlebih dahulu harus menyurati pihak ahli waris sebagai pemilik aset,” ujarnya.
Sebelumnya, sejumlah mahasiswa ISTP Medan menggelar aksi di depan gerbang kampus pada Jumat (3/7/2026). Mereka meminta pihak kampus membuka kembali akses masuk agar kegiatan akademik dapat berjalan normal.
Aksi berlangsung tertib dengan pengawalan aparat kepolisian. Para mahasiswa menyampaikan keberatan atas penutupan gerbang kampus.
“Ini kampus kami. Kenapa ditutup pagarnya. Biarkan kami masuk,” teriak salah seorang peserta aksi.
Seorang mahasiswa yang enggan disebutkan namanya menegaskan bahwa aksi tersebut dilakukan untuk memperjuangkan hak mahasiswa.
“Ini bukan demonstrasi ya bang. Kami hanya menyampaikan tuntutan agar hak-hak kami dipenuhi,” ujarnya.
Hingga aksi berakhir, situasi berlangsung aman dan kondusif di bawah pengamanan aparat kepolisian. D|Red.
Baca artikel menarik lainnya dari
mediadelegasi.id di GOOGLE NEWS.
Penulis : Ivan
Editor : Alan






