
Isteri ketiga bernama Siboru Sanggul Haomasan, melahirkan anak bernama Suanon/Si Suanon dengan gelar Tuan Sorba Dibanua, juga dipanggil Nai Suanon.
Penulisan nama Tuan Sorba Dijulu dan Nai Ambaton dalam situs tersebut adalah 2 orang yang berbeda. Padahal menurut Parna, dua nama tersebut adalah orang yang sama.
“Penulisan silsilah yang salah dalam situs telah menimbulkan polemik besar di tengah-tengah masyarakat, khususnya kami keturunan Tuan Sorba Dijulu/Nai Ambaton, yang bisa menimbulkan konflik antar marga keturunan Tuan Sorimangaradja,” kata Cornel.
BACA JUGA: Delta Varian Baru Corona, Jawaban Prediksi ‘Juru Kunci’ Pusuk Buhit?
Sebagai Pelecehan
Seharusnya, kata Cornel, penentuan lokasi situs berdasarkan hasil musyawarah (martonggo raja) antar keturunan Tuan Sorimangaradja, didukung oleh kajian/penelitian dari lembaga budaya yang sah.
“Dalam peresmian situs Tuan Sorimangaradja, kami keturunan Tuan Sorba Dijulu/Nai Ambaton tidak diberitahu, tidak diajak bicara dan tidak diundang. Padahal silsilah dan nama ompung/nenek kami dicantumkan dan penulisannya salah. Hal ini kami anggap sebagai pelecehan dan tidak menghargai kami keturunan Tuan Sorba Dijulu/Nai Ambaton. Juga bertentangan dengan prinsip dasar dalihan natolu, dengan kata lain mengabaikan adat Batak,” tandas mantan Wakil KSAD ini.