Tahun Baru Bawa Harapan, Namun Sumatera Butuh Pertobatan Ekologis untuk Masa Depan

- Penulis

Minggu, 4 Januari 2026 - 18:51 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dr Wilmar Eliaser Simandjorang. (Foto:Ist)

Dr Wilmar Eliaser Simandjorang. (Foto:Ist)

Medan-Mediadelegasi : Tahun Baru kerap dimaknai sebagai awal yang membawa harapan bagi banyak orang.

Namun demikian, makna harapan tersebut hanya akan nyata jika diiringi dengan keberanian untuk menilai ulang arah hidup bersama seluruh lapisan masyarakat.

Refleksi Tahun Baru di Indonesia, khususnya di wilayah Sumatera, tidak dapat dilepaskan dari realitas krisis ekologis yang terus berulang dan semakin kompleks.

Kerusakan lingkungan tidak lagi menjadi isu pinggiran, melainkan persoalan mendasar yang menentukan masa depan sosial dan ekonomi wilayah ini.

Tanpa adanya refleksi yang jujur terhadap kondisi yang ada, harapan yang tumbuh di awal tahun mudah berubah menjadi pengulangan kesalahan yang sama.

Kondisi ini semakin memperparah beban yang harus ditanggung oleh masyarakat dan alam.

Berbagai peristiwa ekologis telah menjadi bagian dari pola tahunan di Sumatera.

Penebangan hutan, kebakaran lahan, banjir, longsor, abrasi pesisir, serta pencemaran sungai dan danau terjadi hampir setiap tahun dengan pola yang serupa.

Dampak dari berbagai peristiwa tersebut semakin luas meluas dari waktu ke waktu, sementara wilayah yang terdampak sering kali adalah wilayah yang sama.

Banyak bencana yang selama ini disebut sebagai “bencana alami” sejatinya berkaitan erat dengan cara manusia mengelola ruang hidupnya.

Bencana berulang menjadi fenomena yang sulit dihindari. Hal ini tidak terlepas dari model pembangunan di Sumatera yang masih sangat bergantung pada pemanfaatan sumber daya alam secara besar-besaran.

Dalam proses perencanaan pembangunan, orientasi pertumbuhan ekonomi sering menjadi fokus utama yang diutamakan.

Sementara itu, kajian mengenai daya dukung lingkungan dan risiko bencana hanya ditempatkan sebagai pelengkap administratif yang kurang mendapatkan perhatian serius.

Tata ruang yang seharusnya menjadi instrumen pengendalian untuk menjaga keseimbangan alam dan pembangunan, kadang kala dikompromikan untuk kepentingan investasi tertentu.

BACA JUGA:  Nostalgia Para Tokoh Pendiri Samosir: Kenang Perjuangan Awal, Wariskan Semangat Membangun dan Persatuan

Hal ini menyebabkan terjadinya pergeseran fungsi lahan yang tidak sesuai dengan peruntukannya.

Kawasan hutan, lahan gambut, daerah aliran sungai, dan wilayah pesisir yang memiliki fungsi ekologis penting sering kali dialihfungsikan untuk kepentingan lain.

Padahal, risiko yang akan ditimbulkan akibat perubahan fungsi tersebut telah dipahami secara jelas oleh berbagai pihak.

Partisipasi publik dalam proses perencanaan pembangunan pun belum berjalan secara optimal. Suara masyarakat lokal dan adat seringkali hanya hadir sebatas formalitas konsultasi, bukan sebagai subjek yang memiliki hak untuk menentukan arah pembangunan di wilayahnya sendiri.

Ketika ruang hidup masyarakat diputuskan tanpa adanya partisipasi yang sesungguhnya dari mereka, konflik dan kerentanan menjadi konsekuensi yang hampir tak terhindarkan.

Masyarakat yang seharusnya menjadi penerima manfaat justru menjadi pihak yang paling dirugikan.

Persoalan ekologis juga berlanjut pada tahap pengelolaan dan pengendalian, khususnya di sektor kehutanan.

Praktik penebangan kayu—baik yang dilakukan secara legal maupun yang tidak selalu sesuai dengan prosedur yang berlaku—masih terjadi di berbagai wilayah di Sumatera.

Aktivitas penebangan kayu yang mendapatkan izin kadang melebihi kapasitas ekologis yang telah ditentukan.

Sementara itu, praktik yang tidak sesuai dengan regulasi sulit untuk ditindak secara konsisten oleh pihak berwenang.

Keterbatasan dalam pengawasan dan penegakan hukum menjadi faktor utama yang membuat praktik tidak sesuai aturan terus berjalan.

Dampak ekologis yang ditimbulkan dari kondisi ini sangat signifikan dan berdampak jangka panjang.

Lemahnya pengawasan tidak hanya terjadi di sektor kehutanan, melainkan juga pada sektor perkebunan, pertambangan, dan pembangunan infrastruktur.

Hal ini menunjukkan adanya keterbatasan dalam tata kelola lingkungan yang berlaku di wilayah Sumatera.

Penegakan hukum terkait dengan perlindungan lingkungan belum selalu memberikan kepastian dan rasa keadilan bagi masyarakat.

BACA JUGA:  Unesco Tentukan Nasib Geopark Kaldera Toba September Ini

Pelanggaran terhadap peraturan lingkungan dapat berulang terjadi, dan dampak ekologis kerap kali dirasakan secara langsung oleh masyarakat lokal yang tinggal di sekitar lokasi kejadian.

Kondisi ini memperbesar potensi terjadinya bencana di berbagai wilayah. Namun demikian, upaya mitigasi bencana belum menjadi arus utama dalam kebijakan pembangunan. Pencegahan masih kalah penting dibandingkan dengan upaya respons darurat setelah bencana terjadi.

Rehabilitasi hutan dan daerah aliran sungai berjalan dengan kecepatan yang lambat.

Sistem peringatan dini dan edukasi kebencanaan juga belum menjangkau seluruh wilayah yang berisiko rawan bencana.

Selain itu, kontingensi bencana—termasuk kesiapan sumber daya, stok logistik, tim tanggap darurat, dan rencana operasional yang teruji—masih sangat terbatas.

Banyak daerah di Sumatera belum memiliki skema koordinasi yang memadai untuk menghadapi bencana skala besar.

Ketika bencana terjadi, koordinasi antar-lembaga tidak selalu berjalan dengan optimal. Pembagian peran kerap tumpang tindih, dan distribusi bantuan tidak selalu cepat serta tepat sasaran.

Dalam perspektif iman Kristen, bumi dipahami sebagai ciptaan yang dipercayakan kepada manusia untuk dirawat dan dijaga.

Keyakinan bahwa bumi adalah milik Tuhan menempatkan manusia bukan sebagai penguasa mutlak, melainkan sebagai pengelola yang bertanggung jawab.

Memasuki Tahun Baru, refleksi iman harus diterjemahkan ke dalam sikap publik yang bertanggung jawab.

“Tahun Baru, Harapan Baru bagi Ciptaan” bukan sekadar ungkapan optimisme, melainkan ajakan untuk menata ulang relasi manusia dengan alam secara adil dan berkelanjutan. Menjaga ciptaan adalah pilihan konkrit untuk menjaga masa depan bersama seluruh elemen masyarakat.D|Red.

 

 

Baca artikel menarik lainnya dari

mediadelegasi.id di GOOGLE NEWS.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel mediadelegasi.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Jalu Yuswa Panjang Resmi Pimpin Kanwil Ditjenpas Sumut, Gantikan Yudi Suseno
BNN Sumut Ungkap Dua Jaringan Narkotika, Sita 700 Gram Sabu dan Uang Ratusan Juta
Viral Warga Sujud Minta Bantuan, Bobby Nasution Langsung Perintahkan Penanganan
Pemprov Sumut Jalin Kerja Sama dengan RS Mata Cicendo, Tingkatkan Kualitas Layanan Kesehatan Mata
Sumut Jadi Tuan Rumah Hari Anak Nasional 2026, Gubernur Bobby Nasution: Dukung Penuh dan Beri Dampak Ekonomi
Ormas Pendiri Partai Golkar Segera Dilantik, Fokus Pengembangan Ekonomi Rakyat
Menteri Wihaji Kunjungi Sumut dan Aceh, Perkuat Program Bangga Kencana dan Tekan Stunting
Timnas Indonesia U19 Menang Telak 3-0 atas Myanmar, Bobby Nasution: Hasil Sangat Baik
Berita ini 2 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 9 Juni 2026 - 13:34 WIB

Jalu Yuswa Panjang Resmi Pimpin Kanwil Ditjenpas Sumut, Gantikan Yudi Suseno

Selasa, 9 Juni 2026 - 12:15 WIB

BNN Sumut Ungkap Dua Jaringan Narkotika, Sita 700 Gram Sabu dan Uang Ratusan Juta

Sabtu, 6 Juni 2026 - 13:29 WIB

Viral Warga Sujud Minta Bantuan, Bobby Nasution Langsung Perintahkan Penanganan

Rabu, 3 Juni 2026 - 17:27 WIB

Pemprov Sumut Jalin Kerja Sama dengan RS Mata Cicendo, Tingkatkan Kualitas Layanan Kesehatan Mata

Rabu, 3 Juni 2026 - 14:25 WIB

Sumut Jadi Tuan Rumah Hari Anak Nasional 2026, Gubernur Bobby Nasution: Dukung Penuh dan Beri Dampak Ekonomi

Berita Terbaru