Teknologi AR Berbasis Buku Cerita Rakyat Tiga Dimensi

Teknologi AR Berbasis Buku Cerita Rakyat Tiga Dimensi
Siti Hojimah Siregar, Siswi Pondok Pesantren Modren Nurul Fadhilah, Deli Serdang-Sumatera Utara

CERITA rakyat adalah cerita zaman dahulu yang hidup di kalangan masyarakat dan diwariskan secara turun temurun secara lisan. Menurut Endaswara (2008:151) sastra lisan adalah karya yang penyebarannya disampaikan dari mulut ke mulut secara turun-temurun.

Dundes dalam (Amri, 2016:1) menyatakan bahwa folk adalah sekelompok orang yang memiliki ciri- ciri pengenal fisik, sosial dan budaya. Sehingga dapat dibedakan dari kelompok- kelompok lainnya. Ciri- ciri pengenal itu antara lain dapat berwujud: warna kulit yang sama, bentuk rambut yang sama, mata pencaharian yang sama, bahasa yang sama, taraf pendidikan yang sama, dan agama yang sama.

Namun lebih penting lagi adalah bahwa mereka telah memiliki suatu tradisi, yakni kebudayaan yang telah mereka warisi turun-temurun, sedikitnya dua generasi yang dapat mereka akui sebagai milik bersamanya.

Bacaan Lainnya

Cerita rakyat dipelajari di jenjang pendidikan SMA dan Madrasah Aliyah sebagai bukti, bahwa generasi muda penting menjaga nilai-nilai warisan budaya yang dimiliki dari daerahnya masing-masing. Cerita zaman dulu dapat diubah ke dalam bentuk gambar tiga dimensi dengan menggunakan bantuan teknologi Augmented Reality (AR).

AR merupakan teknologi kebalikan dari Virtual Reality (VR) yang menekankan pada objek nyata di dalam dunia maya. Sedangkan konsep teknologi AR merupakan teknologi yang menambahkan objek maya ke dunia nyata. Kunci kesuksesan dari sistem AR adalah menjiplak semirip mungkin dunia maya dengan dunia nyata. (Joefri dan Anshori, 2011).

Pos terkait