Samosir-Mediadelegasi:Amin Aloysius Turnip BA genap 38 tahun tanggal 27 september 2025 , menghadap-Nya. Meski berjalan menuju setengah abad namun legacynya masih memiliki keistimewaan, bersinar dalam nafas religi.
Lebih setengah abad lampau, guru Agama Katolik di SD Negeri dan SMP di Samosir itu rutin mengikuti dan menggelar acara tradisi yang disebut berkaitan dengan kekuatan profetik, khususnya arwah leluhur.
Di sejumlah kegiatan religi yang dipadu dengan etnik, suami T Br Sagala (op Tahanni) tersebut melibatkan warga negara asing seperti Ps Guide de Vet OFMCap dari Belanda.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Warisan pria yang pada Sabtu 27 September 2025, genap 38 tahun berada di rumah-Nya itu menjadi tuntunan hidup berbasis religi. “Almarhum bapak dulu rutin mengadakan mandudu lengkap dengan pasukan musik etnik utuh, termasuk sordam, ikut serta bersama massa,” jelas putranya Ir Mandalasah Turnip SH.
Menurutnya, almarhum menggunakan mata hati dalam memuliakan-Nya. “Kalau bikin kegiatan musik, misalnya, saat itu bona pasogit belum ada aliran listrik, prosesi dilakukan mengandalkan lampu tradisional. Prosesi keliling kampung dengan musik dan irama-irama khas. Orangtua kami mengikuti prosesi dengan keyakinan Katolik yang sangat kental. Artinya, sejak hampir seabad lampau, inkulturatif sudah dilakukan,” tambah pria yang menjabat sebagai Ketua Gabungan Pengusaha Konstruksi Indonesia (Gabpkin) Sumatera Utara itu.
Yang dipetik dari tradisi yang dilestarikan adalah bagaimana memadukan keyakinan berdasar religi serta melestarikan tradisi. “Semakin hari, semakin sedikit generasi milenial yang tahu mandudu tersebut,” tambahnya didampingi pahompu almarhum, Alexius Turnip.
Mandudu bagi banyak orang merupakan upacara meminta berkat kepada Sang Khalik melalui perantara arwah leluhur. Para peserta berdoa semalaman penuh dengan diiringi gondang sabangunan serta perkusi etnik. Ada yang mengadakan kegiatan bersamaan dengan mangalahat horbo.
Mandalashah Turnip menegaskan, bagi yang khusyuk melakukannya maka semakin trans. Ia ingat bagaimana dudang-dudang yang mengalun ritmis. Irama tersebut kadang mendatangkan sensasi transendental bahkan mistis. “Irama gak boleh berhenti dan tetap dibunyikan sepanjang acara. Irama tersebut adalah doa,” kenangnya sambil mengatakan almarhum menuntut anak-borunya untuk hidup seimbang mikro dan makrosmos, antara batin individu dengan alam sekitar.
Menurutnya, dalam Katolik kan ada requem. Hampir sama.
Memorinya kembali ke era 50 tahun lalu di mana masyarkat Samosir yang kompak padu, religius dan saling mendukung bila ada kegiatan religi dan adat.D|Red












