Siaga Hantavirus: Kemenkes Siapkan Rapid Test dan PCR, Belum Ada Rencana Lockdown

Kamis, 7 Mei 2026 - 14:58 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Alat PCR Hantavirus mulai disiapkan Menkes. Foto: AI

Ilustrasi Alat PCR Hantavirus mulai disiapkan Menkes. Foto: AI

Jakarta-Mediadelegasi: Siaga Hantavirus, Pemerintah terus mematangkan langkah antisipasi menyusul merebaknya kasus Hantavirus di kapal pesiar MV Hondius yang kini menjadi perhatian dunia. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) secara khusus mulai mempersiapkan sistem deteksi dini, mulai dari ketersediaan rapid test hingga peralatan dan reagen untuk pemeriksaan PCR.

Kesiapan ini lantas memunculkan pertanyaan besar di tengah masyarakat: apakah Indonesia sedang bersiap menghadapi situasi darurat kesehatan yang setara dengan pandemi COVID-19 beberapa tahun lalu?

Menjawab hal tersebut, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa fokus utama pemerintah saat ini masih pada upaya pengawasan dan deteksi dini. Tujuannya agar setiap potensi penyebaran virus dapat diketahui sesegera mungkin sebelum meluas.

“Yang kami lakukan, kami mempersiapkan agar screening-nya kami punya, apakah itu dalam bentuk rapid test kayak Covid-19 dulu maupun reagen-reagen yang digunakan di mesin PCR,” ujar Menkes Budi di kantornya, Kamis (7/5/2026).

BACA JUGA:  PKC PMII Sumut: Isu yang Menyeret Jampidsus Harus Diusut Transparan, Pemberantasan Korupsi Tidak Boleh Tebang Pilih

Meski peralatan tes sedang dipersiapkan, Menkes memastikan bahwa berdasarkan laporan yang diterima, penyebaran virus saat ini masih terkonsentrasi di lingkungan kapal pesiar tersebut dan belum menyebar luas ke berbagai negara.

“Yang kami terima, (Hantavirus) masih terkonsentrasi di kapal itu. Jadi belum menyebar kemana-mana,” tegasnya.

Sebagai langkah preventif, pemerintah juga telah menjalin koordinasi intensif dengan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Kerja sama ini mencakup upaya screening bersama serta pemantauan terus-menerus terhadap perkembangan kasus di tingkat global.

Menurut Menkes Budi, sistem surveillance atau pengawasan yang ketat menjadi kunci utama saat ini. Hal ini dilakukan agar Indonesia tidak lengah dan bisa merespons dengan cepat jika sewaktu-waktu muncul kasus yang mencurigakan di dalam negeri.

“Jadi sekarang kami masih fokus ke surveillance supaya kalau ada apa-apa, bisa cepat tahu,” tambahnya.

Sebagai informasi, Hantavirus adalah virus yang umumnya dibawa oleh hewan pengerat seperti tikus. Penyakit ini bisa menyerang paru-paru dan ginjal dengan tingkat kematian yang cukup tinggi. Berbeda dengan COVID-19, virus ini secara alami tidak mudah menular antarmanusia. Penularan biasanya terjadi ketika manusia menghirup udara yang terkontaminasi urine, air liur, atau kotoran hewan pembawa virus.

BACA JUGA:  Swasembada Pangan 2026 Diproyeksi Lanjut, Stok Beras Pemerintah Capai 5,17 Juta Ton

Namun, kasus di MV Hondius menjadi perhatian khusus karena diduga melibatkan jenis Andes virus, yaitu strain langka yang diketahui bisa menular antarmanusia melalui kontak fisik yang sangat dekat.

Meskipun alat tes sedang disiapkan, hingga saat ini pemerintah belum memberikan sinyal apapun terkait rencana penerapan pembatasan sosial atau lockdown seperti yang pernah dilakukan saat pandemi COVID-19. WHO sendiri juga menilai risiko Hantavirus menjadi pandemi global masih tergolong rendah, mengingat pola penyebarannya yang jauh lebih terbatas dibandingkan virus corona. D|Red.

 

Baca artikel menarik lainnya dari
mediadelegasi.id di GOOGLE NEWS.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel mediadelegasi.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Temuan 996 Pucuk Senjata di Yayasan Jaksel, Polisi Panggil Mantan Ketua IWD
PT PAL Indonesia Resmi Bangun Kapal Selam Scorpene Generasi Terbaru, Pekerjaan Ditargetkan 8 Tahun
Polda Jabar Tangkap Dua Tersangka Penyebar Konten Hasutan Terkait Pernyataan Presiden Prabowo
Febrie Adriansyah Tiba di Kejagung Pakai Rompi Tahanan, Diperiksa Terkait Emas 74 Kg & Rp543 Miliar
Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Dijemput dari Rutan KPK, Diperiksa Tim 9 Kejagung Sebagai Tersangka TPPU
Presiden Prabowo Tinjau Inovasi BRIN: Pesawat Tanpa Awak, Amfibi, Hingga Teknologi Giant Sea Wall
Rp20.5 Triliun Bantuan ke 490 Pemda: Solusi Kilat atau Obat Penunda Penyakit Fiskal Daerah?
PN Jakarta Selatan Tolak Praperadilan Jilid III Roy Suryo, Gugatan Ganti Rugi Rp206 Juta Ditolak
Berita ini 38 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 7 Agustus 2026 - 17:06 WIB

Temuan 996 Pucuk Senjata di Yayasan Jaksel, Polisi Panggil Mantan Ketua IWD

Jumat, 7 Agustus 2026 - 16:49 WIB

PT PAL Indonesia Resmi Bangun Kapal Selam Scorpene Generasi Terbaru, Pekerjaan Ditargetkan 8 Tahun

Jumat, 7 Agustus 2026 - 14:14 WIB

Febrie Adriansyah Tiba di Kejagung Pakai Rompi Tahanan, Diperiksa Terkait Emas 74 Kg & Rp543 Miliar

Jumat, 7 Agustus 2026 - 13:36 WIB

Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Dijemput dari Rutan KPK, Diperiksa Tim 9 Kejagung Sebagai Tersangka TPPU

Kamis, 6 Agustus 2026 - 17:26 WIB

Presiden Prabowo Tinjau Inovasi BRIN: Pesawat Tanpa Awak, Amfibi, Hingga Teknologi Giant Sea Wall

Berita Terbaru

Kabupaten Labuhan Batu Utara

Tindaklanjuti Instruksi DPP, Golkar Labura Gelar Pleno Persiapan Musda 2026

Jumat, 7 Agu 2026 - 17:53 WIB

Foto: Jilbab berlogo bordir “Asri” hasil pengadaan Bagian Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Kabupaten Deli Serdang sebanyak 15.000 lembar senilai Rp525 juta. Harga satuan yang ditetapkan Rp35.000 disorot JIPI karena dinilai jauh lebih tinggi dari harga pasar sejenis yang diperkirakan hanya sekitar Rp15.000 per lembar.

Kabupaten Deli Serdang

Jilbab Rp525 Juta, Kainnya yang Mahal atau Angkanya yang Bikin Bertanya?

Jumat, 7 Agu 2026 - 17:16 WIB