Samosir-Mediadelegasi: Danau Toba, ikon wisata Indonesia dan warisan dunia UNESCO Global Geopark, menghadapi ancaman serius. Pencemaran lingkungan yang terus meningkat,
terutama akibat keberadaan keramba jaring apung, telah mendorong peringatan keras dari berbagai pihak, termasuk Ephorus HKBP, Pendeta Victor Tinambunan.
Dalam sebuah wawancara, Pendeta Victor menggambarkan Danau Toba sebagai “tong sampah raksasa”.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia menyoroti dampak negatif dari keramba jaring apung, khususnya limbah pakan ikan yang tak terkonsumsi dan mengendap di dasar danau, menyebabkan polusi amonia yang signifikan.
Polusi ini telah berdampak nyata pada ekosistem Danau Toba. Kejadian kematian ikan dalam jumlah besar (ratusan ton) sebanyak tiga kali dalam sepuluh tahun terakhir menjadi bukti nyata kerusakan lingkungan yang terjadi. Kondisi ini menunjukkan kapasitas daya dukung Danau Toba yang telah melampaui batas.
Kekhawatiran semakin meningkat mengingat peringatan dari World Bank yang menunjuk keramba jaring apung sebagai salah satu penyebab utama kerusakan lingkungan di Danau Toba.
UNESCO pun telah memberikan “kartu kuning” kepada Danau Toba, dengan tenggat waktu perbaikan yang telah lewat. Ancaman “kartu merah” atau pencabutan status Global Geopark semakin nyata.
Pendeta Victor Tinambunan mendesak pemerintah dan pihak terkait untuk mengambil tindakan konkret untuk mengatasi masalah ini.
Ia menekankan pentingnya pengelolaan keramba jaring apung yang berkelanjutan dan ramah lingkungan untuk menyelamatkan Danau Toba dari kerusakan lebih lanjut.
Nasib Danau Toba kini berada di ujung tanduk. Perbaikan ekologis yang menyeluruh dan segera sangat dibutuhkan untuk mencegah hilangnya status Global Geopark dan melindungi keindahan serta kelestarian danau vulkanik terluas di dunia ini untuk generasi mendatang.
Baca artikel menarik lainnya dari
mediadelegasi.id di GOOGLE NEWS.











