Mengejutkan, Xabi Alonso Dipecat Madrid

Mengejutkan
Xabi Alonso meninggalkan Real Madrid. Foto: Ist.

Medan-Mediadelegasi: Kabar mengejutkan datang dari Santiago Bernabeu. Xabi Alonso, pelatih muda yang digadang-gadang akan membawa angin segar bagi Real Madrid, resmi meninggalkan jabatannya setelah hanya tujuh bulan menukangi tim. Keputusan ini tentu saja mengejutkan banyak pihak, mengingat reputasi Alonso sebagai salah satu gelandang terbaik di generasinya.

 

Berita Mengejutkan

Namun, di balik berita mengejutkan ini, terdapat lima alasan utama yang menjadi faktor pemecatan sang pelatih. Mulai dari performa tim yang jauh dari harapan, hingga krisis yang terjadi di ruang ganti pemain.

Bacaan Lainnya

1. Hasil Buruk dan Tekanan Klub: Real Madrid gagal meraih trofi Piala Dunia Antarklub dan tampil mengecewakan di babak semifinal melawan PSG. Puncaknya, kekalahan telak di final Piala Super Spanyol melawan Barcelona menjadi titik nadir yang membuat manajemen klub kehilangan kesabaran. Di Santiago Bernabeu, kekalahan terhormat tidaklah cukup, dan hilangnya kepercayaan terhadap Alonso semakin tak terhindarkan.

2. Janji Rock and Roll Tak Pernah Terwujud: Xabi Alonso datang dengan janji membawa gaya permainan pressing tinggi dan sepak bola agresif yang menghibur. Namun, kenyataannya di lapangan jauh panggang dari api. Tim tampil tanpa energi, kehilangan intensitas, dan kesulitan menembus pertahanan rapat lawan. Gaya pressing tinggi hanya terlihat sesekali, seperti saat menghadapi Barcelona di Bernabeu, sementara performa tim secara keseluruhan terus menurun dari waktu ke waktu.

 

Baca Juga : https://mediadelegasi.id/era-baru-herdman-nakhoda-garuda/

3. Ketiadaan Pemain Pengatur Tempo yang Memadai: Xabi Alonso meminta kepada manajemen klub untuk mendatangkan pemain lini tengah yang memiliki kemampuan untuk mengendalikan ritme permainan. Namun, alih-alih memenuhi permintaannya, Madrid justru mendatangkan Franco Mastantuono seharga 60 juta euro, sementara Martin Zubimendi justru dilepas ke Arsenal. Kepergian Luka Modric juga meninggalkan lubang besar di lini tengah, membuat kombinasi Tchouameni, Camavinga, dan Valverde kurang efektif dalam mengendalikan jalannya pertandingan.

4. Masalah Build-up dan Strategi Serangan: Kurangnya kemampuan membangun serangan dari lini belakang menjadi masalah yang semakin terlihat jelas, terutama di ajang Piala Super Spanyol. Thibaut Courtois, sang penjaga gawang, bahkan harus melakukan hampir 40 umpan panjang saat menghadapi Atletico Madrid. Real Madrid tampil seperti tim kecil, lebih mengandalkan bola-bola kedua, dan kehilangan estetika permainan yang selama ini menjadi ciri khas klub. Pola serupa kembali muncul di final melawan Barcelona, semakin mempertegas masalah taktik yang dihadapi oleh Xabi Alonso.

Pos terkait