Aceh-Mediadelegasi: Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Aceh Tamiang untuk meninjau langsung kondisi daerah yang terdampak parah oleh bencana banjir dan lumpur, dan mendagri salurkan bantuan alat pembersihan lumpur kiriman Presiden Prabowo Subianto yang ditujukan bagi Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang guna mendukung pemulihan aktivitas masyarakat.
Baca juga : https://mediadelegasi.id/mualem-perpanjang-status-darurat-aceh-hingga-januari/
Bantuan utama yang diserahkan berupa sembilan unit skid loader atau alat berat pembersih lumpur dengan spesifikasi khusus yang disesuaikan dengan kondisi pemukiman warga.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Tito menjelaskan bahwa sembilan unit alat berat tersebut merupakan kelas mini yang sengaja dipilih agar mampu menjangkau area sempit seperti gang-gang kecil maupun bagian dalam rumah warga.
Mendagri Salurkan Alat Pembersih Lumpur Dari Presiden ke Wilayah Tamiang
Penggunaan alat berat ukuran kecil ini sangat krusial, mengingat penggunaan alat berat berukuran besar justru dikhawatirkan dapat merusak struktur bangunan rumah yang sudah rapuh akibat terjangan banjir.
Selain alat berat, Mendagri juga menyerahkan perlengkapan pendukung lainnya secara simbolis, di antaranya 5.000 pasang sepatu boots yang diperlukan petugas dan relawan di lapangan.
Pemerintah juga menyediakan 3.000 unit gerobak dorong atau lori, serta masing-masing 1.000 buah sekop dan cangkul untuk mempermudah evakuasi sisa-sisa material lumpur yang mengeras.
Dalam arahannya, Tito menganalogikan perlengkapan tersebut sebagai “senjata peperangan” bagi masyarakat dan pemerintah daerah untuk melawan timbunan lumpur yang menghambat mobilitas.
Seluruh bantuan tersebut diharapkan dapat dimaksimalkan oleh pemerintah daerah setempat untuk membersihkan fasilitas layanan publik serta rumah-rumah warga agar segera layak huni kembali.
Mendagri mengungkapkan bahwa selain Aceh Tamiang, pemerintah pusat juga tengah mengupayakan dukungan serupa bagi daerah terdampak lainnya seperti Aceh Timur, Aceh Utara, Bireuen, dan Pidie Jaya.
Sementara itu, untuk wilayah dataran tinggi seperti Gayo Lues, Bener Meriah, dan Aceh Tengah, kondisi dilaporkan relatif lebih aman dari genangan lumpur meski tetap dalam pemantauan.
Tito menekankan bahwa fokus penanganan di wilayah yang terkena longsor akan diarahkan pada perbaikan infrastruktur jalan dan jembatan guna memulihkan konektivitas antarwilayah.
Bantuan ini menjadi sangat krusial bagi Aceh Tamiang, karena menurut pantauan Kemendagri, wilayah ini menjadi satu-satunya daerah yang roda pemerintahannya belum sepenuhnya normal akibat bencana.
Berdasarkan koordinasi melalui daring, Tito menyebutkan bahwa daerah lain di Sumatera Utara dan Sumatera Barat yang juga terdampak bencana, saat ini sudah mampu mengoperasikan dinas-dinas pelayan publik secara penuh.
Data Posko Terpadu Aceh Tamiang per 22 Januari 2026 mencatat dampak yang sangat memprihatinkan, di mana bencana ini telah merenggut nyawa 101 orang dan menyebabkan 18 orang luka-luka di 12 kecamatan.
Bencana hidrometeorologi ini juga mengakibatkan 5.901 jiwa terpaksa mengungsi, sementara total warga terdampak di 209 kampung mencapai angka 290.466 jiwa yang kini sangat membutuhkan percepatan pemulihan.D|Red
Baca artikel menarik lainnya dari
mediadelegasi.id di GOOGLE NEWS.












