Aceh Tamiang-Mediadelegasi: Banjir bandang yang melanda kawasan Aceh Tamiang beberapa waktu lalu tidak hanya merusak permukiman warga, tetapi juga menghentikan seluruh aktivitas pendidikan di Pondok Pesantren Darul Mukhlisin.
Asrama santri, ruang belajar, serta fasilitas penunjang porak-poranda akibat terjangan air bercampur lumpur dan kayu besar yang terbawa arus deras.
Pembina Yayasan Darul Mukhlisin, Ichsan, mengenang kondisi mencekam saat banjir mencapai puncaknya. Kawasan pesantren nyaris tak terlihat daratan karena genangan air yang tinggi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Waktu air tinggi-tingginya, kami lihat dari atas, kayu-kayu itu muter-muter aja di sini. Ada yang lolos satu-satu ke lorong santri putri, itulah yang menghancurkan rumah di depan,” kenang Ichsan di Pesantren Darul Muchlisin, Aceh Tamiang, Minggu 28 Desember 2025.
Menurutnya, ancaman kerusakan yang lebih luas berhasil dihindari karena sebagian besar gelondongan kayu tertahan di area pesantren.
“Kalau seandainya kayu ini lepas semua, kemungkinan tiga sampai empat desa lagi yang hancur,” katanya.
Tak Ada Korban Jiwa
Meski situasi sangat mengkhawatirkan, Ichsan bersyukur tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut.
“Santri kami Alhamdulillah semua selamat. Termasuk penduduk desa sini juga selamat,” ucapnya.
Ia menjelaskan, proses evakuasi berjalan aman karena kenaikan air terjadi secara bertahap.
“Airnya naik step by step, jadi semua sempat naik ke atas, ke rumah pendiri yayasan. Waktu air tinggi itu sudah tidak ada orang lagi di bawah,” jelas Ichsan.
Usai banjir surut, pesantren yang berdiri di atas lahan sekitar lima hektare itu sempat tidak berfungsi. Namun, kerja cepat lintas sektor, terutama kehadiran BPJN Aceh melalui Direktorat Jenderal Bina Marga, Kementerian PU, perlahan mengembalikan optimisme warga pesantren.
Ichsan mengungkapkan rasa syukur atas perhatian pemerintah yang turun langsung membantu pembersihan lumpur dan material kayu di lingkungan pesantren.
“Kami dari yayasan sangat berterima kasih banyak. Dengan adanya bantuan pemerintah ini, insya Allah santri-santri bisa cepat untuk sekolah lagi,” kata Ichsan.
Sejak awal penanganan banjir, pihak yayasan berkoordinasi intensif dengan petugas lapangan. Gelondongan kayu besar yang masih layak disortir dan dipindahkan ke lahan dekat sungai untuk dimanfaatkan kembali.
“Kayu-kayu besar yang bagus dipindah dulu ke tanah dekat sungai untuk dipergunakan pemerintah nanti untuk membangun rumah,” ujar Ichsan.
Sementara itu, kayu berukuran kecil yang tidak memungkinkan digunakan sebagai bahan bangunan dimanfaatkan untuk mitigasi bencana di lingkungan pesantren dan desa sekitar.
“Kayu kecil-kecil yang tidak bagus ini akan dibuat bedeng, benteng ke desa, untuk menghalau banjir tahunan,” ucap Ichsan.
Betul-betul Bersih
Hasil koordinasi antara yayasan dan Kementerian PU juga menyepakati pembersihan total area pesantren hingga kembali seperti kondisi semula.
“Di rapat itu memang sampai bersih, betul-betul bersih pesantren ini seperti semula. Akan dibersihkan sampai benar-benar bisa beroperasi lagi,” cetusnya.
Tak hanya pembersihan, Ichsan menyebut adanya rencana bantuan lanjutan untuk pemulihan fasilitas pesantren yang rusak berat akibat banjir.
“(Pemerintah) juga katanya mau bantu kita isi-isi pesantren ini. Komputer, tempat tidur, lemari, karena itu semua hancur,” tuturnya.
Kini, kawasan pesantren perlahan kembali ditata, termasuk lapangan olahraga, area upacara, dan fasilitas penunjang lainnya.
“Tetap kita fungsikan seperti awal,” ujar Ichsan.
Ia berharap dukungan dari Direktorat Jenderal Bina Marga, Kementerian PU, melalui BPJN Aceh, terus berlanjut hingga proses belajar mengajar kembali berjalan normal.
“Harapan kami, kami sangat-sangat perlu bantuan dari Kementerian PU sampai kami bisa proses belajar mengajar seperti biasa,” ujarnya. D|Red-06












