Bank Dunia Sebut 64,2% Warga Indonesia Miskin, BPS Bongkar Beda Standar Penilaian

Kamis, 3 September 2026 - 13:40 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Visualisasi data kemiskinan Indonesia. Sumber: ResearchGate

Visualisasi data kemiskinan Indonesia. Sumber: ResearchGate

Jakarta-Mediadelegasi: Laporan terbaru dari lembaga keuangan global sukses mengejutkan ruang publik tanah air. Bank Dunia merilis data yang menyebutkan bahwa mayoritas penduduk Indonesia atau sekitar 64,2 persen masih masuk dalam kategori miskin.

Sontak angka tersebut langsung menjadi topik hangat dan perdebatan mendalam di kalangan pengamat ekonomi, pemerintah, hingga masyarakat umum. Persentase yang sangat besar ini dinilai berbanding terbalik dengan klaim pertumbuhan ekonomi nasional yang cenderung stabil.

Menanggapi sorotan tajam tersebut, Badan Pusat Statistik (BPS) langsung memberikan tanggapan resmi untuk meluruskan pemahaman publik. Lembaga statistik negara ini mengungkap penyebab utama terjadinya perbedaan angka yang sangat kontras antara rilisan lokal dan internasional.

Pihak BPS menjelaskan bahwa perbedaan drastis ini murni dipicu oleh tolok ukur atau standar garis kemiskinan yang digunakan oleh kedua lembaga. Metode perhitungan Bank Dunia dan BPS rupanya bertumpu pada acuan daya beli yang amat berbeda.

Bank Dunia menggunakan ambang batas kelas menengah bawah dengan standar pengeluaran sebesar US$ 6,85 per orang per hari berbasis Purchasing Power Parity (PPP). Batas ini memperhitungkan biaya hidup global yang terus meningkat drastis.

BACA JUGA:  Kecelakaan Maut Tol Pekanbaru-Dumai: Sopir Hiace Diduga Tertidur Sesaat, 5 Orang Tewas

Sementara itu, BPS menggunakan pendekatan kebutuhan dasar (basic needs approach) yang mengukur kemampuan pemenuhan makanan dan non-makanan secara lokal. Metode baku ini telah diterapkan BPS sejak puluhan tahun lalu untuk memotret kondisi riil masyarakat.

Jika menggunakan acuan perhitungan resmi dari BPS, tingkat kemiskinan di Indonesia sebenarnya berada pada angka satu digit, yakni di bawah sepuluh persen. Hal inilah yang memicu kejutan ketika indikator Bank Dunia diterapkan pada data populasi domestik.

Perbedaan indikator ini memperlihatkan bahwa sebagian besar masyarakat Indonesia sebetulnya berada di kelompok rentan miskin. Mereka sudah melampaui garis kemiskinan nasional, tetapi masih belum tergolong aman jika diukur memakai standar internasional.

Kelompok masyarakat yang berada pada batas tersebut sangat rawan kembali jatuh miskin apabila terjadi guncangan ekonomi. Contoh guncangan riil yang mengintai antara lain kenaikan harga bahan pokok, inflasi tinggi, hingga pemutusan hubungan kerja secara mendadak.

BACA JUGA:  Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Kuartal II 2025 Tumbuh Positif, BPS Rilis Data

Fenomena perbedaan data ini menjadi bahan evaluasi yang sangat krusial bagi jajaran pembuat kebijakan di level pemerintahan. Data tersebut memberikan sinyal nyata bahwa kualitas perbaikan kesejahteraan rakyat masih memerlukan penguatan mendasar di berbagai sektor.

Langkah penanggulangan yang diperlukan tidak lagi sekadar berfokus pada pemberian bantuan sosial berupa tunjangan tunai. Pemerintah didesak untuk memperluas jangkauan lapangan kerja formal serta menjaga kestabilan daya beli masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah.

Kolaborasi yang solid antara perumusan kebijakan nasional dan standar pemantauan global akan menjadi kunci utama menuju Indonesia Emas. Pembenahan sektor ekonomi diharapkan dapat mengangkat derajat kesejahteraan masyarakat secara merata dan berkelanjutan. D|Red.

 

Baca artikel menarik lainnya dari
mediadelegasi.id di GOOGLE NEWS.

Penulis : Tagor

Editor : Alan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel mediadelegasi.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pesawat Garuda Indonesia GA604 Pecah Ban Saat Lepas Landas, Mendarat Selamat di Makassar
Febrie Adriansyah Tiba di Kejagung Tangan Diborgol, Diperiksa Terkait Kasus TPPU Rp543 Miliar
Roy Suryo Pertanyakan Gelar Honours Hilang dari SK Penyetaraan Ijazah S1 Gibran
Destry Damayanti Resmi Dilantik Jadi Gubernur BI, Pimpin Bank Sentral Periode 2026–2031
Polda Metro Jaya Rilis Sketsa 2 Terduga Pengeroyok Bambang hingga Tewas di Pejompongan
Jaksa Agung Burhanuddin Tegas: Jangan Pernah Jual Nama Kejaksaan
Keracunan MBG Sidoarjo Meluas, 27 Siswa Tri Bakti Turut Jadi Korban
BNN Gagalkan Penyelundupan 800 Kg Ketamin di Natuna Utara, Modus Baru Lewat Vape Diungkap
Berita ini 4 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 3 September 2026 - 13:40 WIB

Bank Dunia Sebut 64,2% Warga Indonesia Miskin, BPS Bongkar Beda Standar Penilaian

Kamis, 3 September 2026 - 13:06 WIB

Pesawat Garuda Indonesia GA604 Pecah Ban Saat Lepas Landas, Mendarat Selamat di Makassar

Kamis, 3 September 2026 - 12:10 WIB

Febrie Adriansyah Tiba di Kejagung Tangan Diborgol, Diperiksa Terkait Kasus TPPU Rp543 Miliar

Rabu, 2 September 2026 - 17:20 WIB

Roy Suryo Pertanyakan Gelar Honours Hilang dari SK Penyetaraan Ijazah S1 Gibran

Rabu, 2 September 2026 - 16:53 WIB

Destry Damayanti Resmi Dilantik Jadi Gubernur BI, Pimpin Bank Sentral Periode 2026–2031

Berita Terbaru