Medan-Mediadelegasi: Perjalanan ikan nila atau tilapia asal Indonesia menuju piring konsumen dunia tidak hanya bergantung pada kualitas hasil panen. Di baliknya terdapat upaya menjaga kesehatan ikan, kelestarian perairan, serta pemenuhan standar internasional yang ketat. Salah satu figur yang memegang peran kunci dalam hal ini adalah Friska Setiawani Saragih, S.Si., M.Si., yang kini menjabat sebagai Lake Manager Regal Springs Indonesia.
Alumni Program Studi S2 Bioteknologi Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga ini telah berkiprah di bidang akuakultur lebih dari dua dekade. Baginya, keberhasilan budidaya tidak diukur semata-mata dari jumlah ikan yang dipanen. Kualitas lingkungan tempat ikan hidup justru menjadi fondasi yang tak terpisahkan dari produksi yang berkelanjutan.
Friska memulai perjalanan kariernya di Regal Springs Indonesia pada tahun 2005, tak lama setelah menyelesaikan studi Kimia di Universitas Negeri Medan. Saat itu, ia dipercaya memimpin laboratorium pemantauan kualitas air dan sedimen. Dari ruang pengujian, langkahnya terus melangkah maju. Bersama mentor dari berbagai negara, ia membangun sistem pemantauan kualitas air yang menjadi landasan bagi perusahaan meraih beragam sertifikasi bergengsi, antara lain ASC, BAP Bintang 4, dan CBIB.
Wawasannya semakin mendalam setelah mengikuti program studi ekologi perairan di Wageningen University, Belanda. Pengalaman itu mempertegas keterkaitan erat antara kegiatan budidaya dan keseimbangan ekosistem sungai maupun danau.
Tahun 2020, kepercayaan kepemimpinan semakin besar ditempatkan di pundaknya. Ia diangkat menjadi Farming Technical Manager dengan cakupan tugas luas: mulai dari pengelolaan lingkungan, jaminan mutu, pengawasan, penelitian dan pengembangan, hingga kesehatan ikan. Setahun kemudian, pada 2021, ia dipercaya memegang posisi Lake Manager, mengawasi keseluruhan kegiatan budidaya di Danau Toba.
Salah satu inovasi yang kini dikembangkan di bawah arahannya adalah KING Tilapia, varian tilapia premium yang dipanen pada ukuran 1,1 hingga 1,3 kilogram. Ukuran ini dirancang untuk menghasilkan potongan fillet yang lebih besar dengan tekstur daging yang lebih padat, guna menembus pasar ikan putih premium di kancah internasional.
Bagi Friska, pengembangan ini bukan sekadar soal produk baru. “Tilapia bukan sekadar komoditas—melainkan bagian dari solusi ketahanan pangan dunia,” ujarnya. Ia melihat ikan ini sebagai sumber protein terjangkau yang potensinya sangat besar, asalkan dikembangkan dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan tempat ikan dibudidayakan.
Selain berkontribusi di bidang produksi, Friska aktif membagi ilmunya kepada generasi muda. Ia kerap menjadi narasumber di sekolah dan perguruan tinggi serta mendampingi mahasiswa yang menjalani praktik kerja maupun penelitian lapangan.
Memimpin tim yang mayoritas beranggotakan laki-laki tak menjadi penghalang baginya. Friska meyakini kemampuan tidak mengenal batas gender. “Kemampuan tidak mengenal batas gender,” tegasnya. Ia membangun kepemimpinan berbasis keterbukaan, komunikasi dua arah, apresiasi, serta melibatkan seluruh anggota tim dalam pengambilan keputusan.
Setelah lebih dari 20 tahun mengabdi di industri perikanan, Friska masih melihat ruang pengembangan yang luas. KING Tilapia menjadi salah satu fokus utama yang ingin terus didorongnya, di samping rencana melanjutkan pendidikan serta berkontribusi lebih dalam di dunia akademik. Baginya, akuakultur bukan sekadar mata pencaharian, melainkan bagian dari hidup yang memberi makna.
“Akuakultur bukan sekadar pekerjaan. Ini adalah rumah, tempat saya bertumbuh, belajar, dan memberi manfaat,” pungkasnya. D|Red.
Baca artikel menarik lainnya dari
mediadelegasi.id di GOOGLE NEWS.
Penulis : Tagor
Editor : Alan






