Tom Lembong Hadiri Sidang Nadiem: Hakim dan Jaksa Tertekan, Sistem Peradilan Belum Kondusif

Kamis, 24 September 2026 - 17:26 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mantan Menteri Perdagangan Tom Lembong memberikan keterangan kepada awak media di Pengadilan Tinggi DKI Jakarta, Kamis (24/9/2026). Usai mengikuti sidang putusan banding Nadiem Makarim, ia menyoroti bahasa tubuh hakim dan jaksa yang dinilai tampak tertekan, serta menyatakan sistem peradilan belum kondusif bagi aparat yang berintegritas. Foto: Ist.

Mantan Menteri Perdagangan Tom Lembong memberikan keterangan kepada awak media di Pengadilan Tinggi DKI Jakarta, Kamis (24/9/2026). Usai mengikuti sidang putusan banding Nadiem Makarim, ia menyoroti bahasa tubuh hakim dan jaksa yang dinilai tampak tertekan, serta menyatakan sistem peradilan belum kondusif bagi aparat yang berintegritas. Foto: Ist.

Jakarta-Mediadelegasi: Mantan Menteri Perdagangan Thomas Trikasih Lembong turut hadir mengikuti pembacaan putusan banding Nadiem Anwar Makarim di Pengadilan Tinggi DKI Jakarta, Kamis (24/9/2026). Kehadirannya menandai perhatian tokoh publik lain terhadap proses hukum yang berlangsung secara ketat dan menjadi sorotan luas masyarakat.

Usai persidangan, Tom Lembong menyampaikan pengamatannya secara khusus terhadap ekspresi dan bahasa tubuh majelis hakim serta jaksa yang menangani perkara korupsi pengadaan Chromebook tersebut. Menurutnya, terdapat tanda-tanda tekanan yang terlihat jelas dari sikap para pihak yang menjalankan proses hukum di ruang sidang.

“Yang paling menarik buat saya hari ini adalah memperhatikan wajah-wajah para jaksa dan para hakim. Kalau saya membaca bahasa tubuh mereka, saya merasa mereka juga tertekan,” ungkap Tom Lembong di lokasi persidangan.

Pengamatan ini, kata Tom, sejalan dengan pandangannya yang selama ini ia sampaikan secara terbuka. Ia menegaskan bahwa di lingkungan penegakan hukum Indonesia masih banyak aparat yang berintegritas dan berkeinginan menjalankan tugas secara benar. Namun, sistem yang menaungi mereka belum memberikan ruang yang kondusif untuk bekerja secara bebas dan objektif.

BACA JUGA:  Tragedi di Bandara: Ketua Golkar Maluku Tenggara Tewas, Pelaku Ternyata Atlet MMA

“Jadi, ini konsisten dengan pandangan saya dari dulu bahwa masih banyak jaksa yang baik, masih banyak hakim yang baik, tapi memang kondisi sedang tidak kondusif,” ujarnya.

Tom Lembong juga menyoroti posisi sulit yang kerap dihadapi aparat penegak hukum. Di satu sisi mereka menginginkan proses hukum berjalan adil dan sesuai fakta, namun di sisi lain tetap berada dalam struktur yang menuntut kepatuhan terhadap arahan atasan maupun norma yang berlaku di lingkungan birokrasi.

“Ada kemajuan dan juga kemunduran. Bagi banyak teman-teman kita di aparat penegak hukum, sistem peradilan juga menginginkan yang baik dan benar. Namun ada beban batin bagi mereka yang terpaksa menjalankan perintah atasan atau norma-norma tertentu,” jelas Tom.

Dalam putusan yang dibacakan majelis hakim, vonis Nadiem Makarim dipangkas dari 10 tahun menjadi 9 tahun penjara, serta denda Rp1 miliar yang wajib dilunasi dalam satu bulan. Keputusan ini dinilai sebagian pihak sebagai langkah yang menunjukkan pertimbangan ulang atas fakta-fakta yang diajukan di tingkat banding.

BACA JUGA:  Basarnas Bengkulu Dikerahkan Cari 5 Jurnalis dan 3 Awak Kapal Hilang di Sekitar Anak Krakatau

Selain pengurangan masa pidana, majelis juga menurunkan kewajiban uang pengganti dari Rp809 miliar menjadi Rp548,76 miliar. Jika Nadiem tidak mampu melunasi setelah penyitaan harta, maka ia harus menjalani hukuman tambahan 6 tahun penjara sebagai pengganti pelunasan.

Nadiem sendiri telah menyatakan akan mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung dan menegaskan tidak akan berhenti memperjuangkan pembebasan dirinya. Tom Lembong berharap proses hukum ke depan dapat semakin transparan dan bebas dari tekanan pihak mana pun.

Publik terus mengamati perkembangan perkara ini, tidak hanya menyangkut Nadiem Makarim, tetapi juga menjadi cerminan tata kelola pengadaan barang dan jasa pemerintah serta kemandirian kekuasaan kehakiman di Indonesia. D|Red.

 

Baca artikel menarik lainnya dari
mediadelegasi.id di GOOGLE NEWS.

Penulis : Tagor

Editor : Alan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel mediadelegasi.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

KPK Geledah Kanwil BPN Jawa Timur, Temukan Uang di BPN Mojokerto, 8 Tersangka Suap HGB Bogor
Eks Mendikbudristek Nadiem Makarim Divonis 9 Tahun Penjara di Tingkat Banding Kasus Chromebook
Kanwil Ditjenpas Jawa Barat Dalami Dugaan Fasilitas Mewah di Lapas Cibinong
Roy Suryo Ajukan Eksepsi, Dakwaan Kasus Ijazah Jokowi Dinilai Cacat Hukum
KRI Sriwijaya-100 Resmi Jadi Kapal Induk Pertama Indonesia, Bergabung di TNI AL
Prabowo Pimpin Ratas Bahas Pendidikan Gratis SD hingga PTN, Para Menteri Merapat ke Istana
Jasad di Pulau Enggano Dipastikan Surakhman, Salah Satu Kru Kapal Rombongan Jurnalis Hilang
Polres Jakpus Ungkap Jaringan Narkoba Jalur Pekanbaru–Jakarta, Dua Tersangka Ditangkap di Hotel
Berita ini 4 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 24 September 2026 - 17:26 WIB

Tom Lembong Hadiri Sidang Nadiem: Hakim dan Jaksa Tertekan, Sistem Peradilan Belum Kondusif

Kamis, 24 September 2026 - 16:58 WIB

KPK Geledah Kanwil BPN Jawa Timur, Temukan Uang di BPN Mojokerto, 8 Tersangka Suap HGB Bogor

Kamis, 24 September 2026 - 13:48 WIB

Eks Mendikbudristek Nadiem Makarim Divonis 9 Tahun Penjara di Tingkat Banding Kasus Chromebook

Kamis, 24 September 2026 - 11:23 WIB

Kanwil Ditjenpas Jawa Barat Dalami Dugaan Fasilitas Mewah di Lapas Cibinong

Kamis, 24 September 2026 - 10:44 WIB

KRI Sriwijaya-100 Resmi Jadi Kapal Induk Pertama Indonesia, Bergabung di TNI AL

Berita Terbaru