Ambruknya bangunan tersebut diduga kuat karena fondasi yang tidak kuat menahan beban bangunan. Pagi harinya, baru saja dilakukan pengecoran pada lantai 4 bangunan tersebut.
“Diduga fondasi tidak kuat sehingga bangunan dari lantai empat runtuh hingga lantai dasar,” kata Deputi Operasi dan Kesiapsiagaan Basarnas, Edy Prakoso.
Namun, untuk mengetahui penyebab pasti ambruknya bangunan tersebut, perlu dilakukan serangkaian pengecekan. Arsitek sekaligus dosen Binus University, Denny Setiawan, menyatakan perlu dilihat kelayakan struktur bangunan, apakah melibatkan ahli seperti insinyur sipil atau arsitek, serta bagaimana metode pembangunannya.
“Metode yang benar misalnya kejadiannya pas ngecor, tripleknya sudah digunakan sesuai dengan yang disyaratkan si ahli sipil atau belum. Itu yang perlu kita cek juga. Jangan-jangan tripleknya menggunakan yang mutunya rendah sehingga gampang ambruk,” kata Denny.
Selain itu, perlu dilakukan pengecekan pada fondasi, apakah mampu menanggung beban di atasnya. Seringkali terjadi, bangunan 3-4 lantai, tetapi fondasinya dibuat terlalu kecil dan tipis yang sebenarnya lebih cocok untuk menopang 2 lantai.
Pengecekan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) atau Izin Mendirikan Bangunan (IMB) juga penting. Jika bangunan tersebut memiliki izin bangun, berarti pembangunannya seharusnya sudah direncanakan bersama ahli, seperti arsitek dan insinyur sipil.
Kontraktor sekaligus CEO SobatBangun, Taufiq Hidayat, mengatakan bahwa bangunan yang ambruk tanpa disebabkan bencana alam, penyebabnya diduga karena strukturnya yang tidak kuat.
“Bangunan ambruk otomatis bangunan itu nggak kuat. Nggak kuat terhadap perlakuan atau gaya, beban-beban yang terjadi pada saat bangunan itu digunakan. Mau (saat sedang) digunakan, atau diklaim bahwa itu lagi masa konstruksi. Itu harus dijamin kuat. Kalau menurut saya, kalau mau ngeliat secara fair bangunan itu ya dilihat dari prosesnya (pembangunannya) kayak gimana,” ujarnya.
Taufiq juga mengungkapkan bahwa waktu pengecoran dinilai sudah benar-benar kuat maksimal ditunggu selama 28 hari. Namun, sebelum itu beton yang sudah mengering sudah bisa diinjak.
Pakar teknik sipil struktur Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Mudji Irmawan, menanggapi musibah ini dengan menyatakan bahwa sebagai insinyur sipil, bangunan tersebut tak terencana.
“Kalau kita lihat sejarah pembangunan ruang kelas pondok pesantren ini awalnya merupakan bangunan yang direncanakan cuman satu lantai,” kata Mudji.
Dengan pertambahannya jumlah santri, pengurus ponpes menambah ruang baru di lantai dua dan tiga. Hal ini lah yang kemudian disebutnya sebagai tak terencana sehingga tidak terpikir secara teknis, bahwa nantinya akan dibangun sampai tiga lantai.
Adanya penambahan lantai tersebut, beban yang harus ditanggung pada lantas satu semakin bertambah. Mudji menyebut bahwa pembangunan Ponpes Al-Khoziny tidak sesuai kaidah teknis karena beban yang terus ditambah tanpa perhitungan dan perencanaan sejak awal.
Pengasuh Pondok Pesantren Al Khoziny, KH Abdus Salam Mujib, menceritakan bahwa sebelum kejadian, di pagi hari dilakukan pengecoran. Saat digunakan untuk salat ashar berjamaah, terdengar suara seperti batu jatuh yang semakin lama semakin keras.
Diduga tiang pondasi tidak mampu menahan beban pengecoran sehingga bangunan runtuh. Peristiwa yang terjadi mendadak ini menyebabkan lebih dari 140 santri tertimpa. Proses pembangunan musala tersebut sudah berlangsung sekitar 9-10 bulan.
Hingga Kamis (2/10/2025) pukul 16.00 WIB, Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto menyebut sudah ada 108 korban yang berhasil dievakuasi, lima di antaranya meninggal dunia. Sementara, masih ada sekitar 59 orang yang terjebak di bawah reruntuhan. Berdasarkan hasil analisis situasi di lapangan, 59 orang tersebut tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan.
Tragedi ini menjadi duka mendalam bagi keluarga korban, pihak pesantren, dan masyarakat Sidoarjo. Proses evakuasi terus dilakukan dengan harapan masih ada korban yang selamat. Pihak berwenang juga akan melakukan investigasi menyeluruh untuk mengetahui penyebab pasti ambruknya bangunan tersebut dan memastikan kejadian serupa tidak terulang di masa depan. D|Red.
Baca artikel menarik lainnya dari
mediadelegasi.id di GOOGLE NEWS.
mediadelegasi.id di GOOGLE NEWS.






