Medan-Mediadelegasi: Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Bobby Nasution menyatakan Sumut memiliki potensi menjadi sentra produksi buah jeruk terbesar di Indonesia.
Alasannya, berdasarkan sejumlah penelitian dan kajian menyebutkan di Sumut masi tersedia lahan sangat luas yang cocok untuk penanaman jeruk.
“Sebagai produsen buah jeruk terbesar kedua di Indonesia, Sumatera Utara memiliki potensi besar dalam industri jeruk nasional dan internasional,” tulis Bobby dalam akun media sosialnya yang dikutip Mediadelegasi Medan, Sabtu (31/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sentra komoditas pertanaman jeruk di Sumut tersebar di Kabupaten Karo, Dairi, Pakpak Bharat, Simalundan, Tapanuli Utara dan Kabupaten Humbang Hasundutan.
Namun, diakuinya, pengembangan industrialisasi buah jeruk belum terlalu secara maksimal sehingga membuat harga jeruk masih sangat fluktuatif di tingkat petani.
Selain itu, pengembangan budidaya jeruk juga masih menghadapi tantangan serius, seperti hama hama lalat buah.
“Pemerintah Provinsi Sumatera Utara akan melakukan intervensi secara masif untuk mengatasi lalat buah,” kata Gubernur.
Pemerintah, menurut dia, siap mendukung hilirisasi jeruk melalui penguatan sentra komoditas, penanganan hama lalat buah, edukasi petani, serta pengembangan budidaya dan pascapanen.
Dengan intervensi menyeluruh ini, kata Bobby, diharapkan jeruk Sumut semakin berdaya saing di pasar nasional maupun global, serta turut memperkuat perekonomian daerah dan mendukung ketahanan pangan nasional.
Lalat buah
Berdasarkan data Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura Sumut, sampai saat ini 87,1 persen lahan pertanian jeruk terkena serangan lalat buah.
Kondisi ini membuat banyak petani jeruk enggan untuk kembali menanam jeruk.
“Saat ini produsen terbesar jeruk itu Jawa Timur dan Sumut masih nomor dua, bayangkan dengan keadaan kita seperti inipun kita masih nomor dua, kalau kita maksimalkan kita bisa nomor satu, bahkan diperhitungkan secara internasional,” kata Bobby.
Pakar Kultur Jaringan, Prof Luthfi Aziz Mahmud Siregar mengatakan, selain teknologi, salah satu yang terpenting dalam penanganan hama lalat buah adalah kesadaran petani.
Oleh karena itu, menurut dia, mutlak dibutuhkan pendampingan kepada petani agar mengelola tanaman jeruknya secara profesional.
Dikatakannya, penanganan lalat buah harus dilakukan bersama-sama, bukan hanya di lahan jeruknya saja, tetapi juga bumpernya, zona di sekitar lahan pertanian jeruk.
“Petani juga harus melakukan apa, sadar akan pentingnya mengelola jeruknya dengan baik, misalnya membersihkan buah yang jatuh karena hama, memperhitungkan sanitasi dan lainnya,” kata Luthfi . D|Red
Baca artikel menarik lainnya dari mediadelegasi.id di GOOGLE NEWS












