Bandung-Mediadelegasi: Arjon Turnip PhD, akademisi Universitas Padjajaran (Unpad) Bandung kembali menghadirkan penemuan alat kesehatan berbasis teknologi. Alat kesehatan untuk urusan jantung itu dia beri nama ECBM-heart, singkatan dari Electrical Capacitance Body Measurement for heart rate/rhythm monitoring.
Menurut Arjon Turnip kepada Mediadelegasi, Kamis (20/1), via selular, ECBM-heart ciptaannya itu merupakan satu dari empat teknologi hasil penelitian terbaik Unpad yang dipamerkan Senin lalu dan mendapat apresiasi saat kedatangan Menteri Pendidikan Nadiem Makarim di Kampus Unpad.
Produksi dan pengembangan ECBM-heart, jelas putra kelahiran Samosir, Sumatera Utara ini, mendapat dukungan dr Warsito sang penemu vibrasi kanker dari PT C-TECH.
Dia juga mengatakan, temuannya itu telah berhasil diujicoba di RS Royal Prima Medan Desember lalu. “ECBM-heart segera diproduksi dengan harga relative terjangkau,” kata Arjon.
Menurut Arjon, ECBM-heart diusulkan sebagai salah satu solusi di bidang kesehatan untuk mengurangi resiko serangan jantung ditengah-tengah kondisi wabah Covid-19.
Dengan kepemilikan ECBM-heart, pasien dalam melakukan monitoring tidak lagi harus mendatangi rumah sakit dan berada di dekat instrumen Elektrokardiograf (Ekg).
Arjon Turnip merancang bangun sebuah sistem Ekg bersifat wireless dan portable dalam ECBM-heart. “Alat ini merupakan pakaian yang nyaman dan disematkan sensor kapasitansi listrik untuk memantau denyut dan irama jantung yang terintegrasi dengan diagnostik serangan jantung berbasis Artificial Intelligence (AI) (kecerdasan buatan) and Internet of Things (IoT),” katanya.
Prototipe sistem yang dibangun terdiri dari tiga bagian utama, yaitu modul sensor Ekg, sistem jaringan komunikasi wireless dan base station yang dilengkapi software Graphical User Interface (GUI). Modul sensor EKG digunakan untuk menangkap, menguatkan, dan memfilter sinyal-sinyal biopotensial yang dihasilkan oleh tubuh pasien sebagai representasi aktivitas jantung.
Modul dibuat seringan mungkin (light weight), berdaya rendah (low power) dan bisa dikenakan dalam bentuk pakaian yang nyaman (wearable) untuk memudahkan mobilitas pasien.
Dengan ketiga bagian tersebut, monitoring dan diagnosa kondisi jantung seorang pasien akan dapat dilakukan secara real-time, akurat dan low-cost selama masih berada dalam radius cakupan sistem wireless link.
Kehadiran ECBM-heart, ungkap Arjon, akan mengurangi beban dokter. Karena, ECBM dibangun berbasis AI untuk membantu kerja dokter dalam memutuskan kondisi pasien apakah tergolong dalam potensi serangan jantung yang tinggi atau rendah dan berbasis IoT untuk memastikan kondisi jantung pasien dapat dimonitor 24 jam secara kontiniu.
Apabila hasil monitoring tersebut dapat dikirimkan secara wireless ke sebuah pusat database pasien di rumah sakit, maka diagnosis aktivitas jantung dapat dilakukan tanpa mengharuskan pasien tersebut datang ke rumah sakit. D|Red-06






