Oleh: Dr. Wilmar Eliaser Simandjorang, M.Si.
Medan-Mediadelegasi: Di tengah perubahan sosial yang bergerak cepat, organisasi kemasyarakatan berbasis genealogis menghadapi tantangan yang tidak ringan. Organisasi yang dahulu lahir dari semangat persaudaraan, ikatan leluhur, dan solidaritas sosial kini berada di persimpangan zaman. Di satu sisi, organisasi semakin besar dengan cabang yang tersebar hingga ke berbagai daerah dan pedesaan. Namun di sisi lain, muncul tantangan baru berupa melemahnya keterikatan generasi muda, menguatnya ego kelompok, serta kecenderungan organisasi terjebak dalam urusan administratif semata.
Banyak organisasi akhirnya sibuk “memanejeri”, tetapi perlahan kehilangan kemampuan untuk “memimpin”.
Padahal, memanejeri dan memimpin adalah dua hal yang berbeda. Memanejeri berkaitan dengan administrasi, struktur, laporan, dan pengaturan teknis organisasi. Sementara memimpin menyangkut kemampuan membangun arah, budaya, semangat, dan rasa memiliki bersama.
Organisasi yang hanya kuat dalam administrasi mungkin terlihat rapi di atas kertas, tetapi belum tentu memiliki daya hidup yang panjang. Sebaliknya, organisasi yang dipimpin dengan visi dan keteladanan biasanya mampu bertahan lintas generasi, bahkan menjadi kekuatan sosial yang berpengaruh dalam kehidupan masyarakat.
Gagasan ini terasa kuat dalam buku Leading karya Alex Ferguson bersama Michael Moritz. Meski lahir dari pengalaman dunia olahraga dan bisnis, pemikiran mereka justru sangat relevan diterapkan dalam organisasi kemasyarakatan berbasis genealogis di Indonesia.
Organisasi genealogis sesungguhnya memiliki modal sosial yang sangat besar. Ia bukan sekadar wadah formal, melainkan ruang yang dibangun oleh hubungan keluarga, sejarah leluhur, nilai budaya, dan ikatan emosional antargenerasi. Karena itu, organisasi seperti ini seharusnya tidak hanya berfungsi sebagai penyelenggara acara adat atau kegiatan seremonial, tetapi juga menjadi kekuatan sosial yang mampu memberi kontribusi dalam berbagai bidang kehidupan masyarakat.
Di banyak daerah, organisasi genealogis sebenarnya memiliki potensi besar untuk bergerak dalam bidang pendidikan, sosial, ekonomi, budaya, hingga pemberdayaan masyarakat desa. Namun potensi itu sering kali tidak berkembang optimal karena organisasi terlalu sibuk pada urusan internal dan perebutan pengaruh.
Di sinilah kepemimpinan menjadi penentu utama.
Salah satu pelajaran penting dari Alex Ferguson adalah bahwa organisasi harus lebih besar daripada tokoh. Selama memimpin Manchester United, Ferguson berhasil membangun budaya organisasi yang tetap kuat meskipun pemain dan staf terus berganti. Ia tidak membiarkan individu merasa lebih penting daripada institusi.
Pelajaran ini sangat relevan bagi organisasi genealogis. Tidak sedikit organisasi kemasyarakatan yang terlalu bergantung pada figur tertentu. Ketika tokoh tersebut tidak lagi aktif, organisasi ikut melemah karena tidak memiliki sistem kaderisasi dan budaya yang kuat.
Padahal organisasi yang sehat seharusnya mampu melahirkan pemimpin baru secara berkelanjutan. Kepemimpinan tidak boleh diwariskan berdasarkan kedekatan pribadi semata, tetapi dibangun melalui proses pengabdian, pengalaman, dan kemampuan menjaga persatuan.
Karena itu, organisasi genealogis perlu mulai membangun tradisi kaderisasi yang sehat. Generasi muda harus diberi ruang belajar memimpin sejak awal, bukan sekadar menjadi pelengkap acara atau tenaga teknis di lapangan.
Ferguson juga mengajarkan pentingnya kedekatan dengan akar rumput. Ia dikenal memahami karakter para pemainnya secara personal. Pendekatan seperti ini penting diterapkan dalam organisasi kemasyarakatan yang memiliki anggota hingga ke desa-desa.
Pemimpin organisasi tidak cukup hanya hadir dalam forum resmi atau aktif di media sosial. Ia perlu turun langsung mendengar masyarakat, memahami persoalan anggota, serta membangun hubungan yang hangat dengan komunitas di bawah.
Di masyarakat pedesaan, kepercayaan sosial sering kali lahir bukan dari jabatan formal, melainkan dari kedekatan dan keteladanan. Karena itu, kepemimpinan berbasis genealogis harus dibangun melalui kehadiran nyata di tengah masyarakat.
Kesalahan yang sering terjadi adalah ketika organisasi pusat terlalu memakai pendekatan birokratis dan perkotaan untuk mengelola komunitas di desa. Padahal masyarakat desa lebih menghargai pendekatan personal, musyawarah, dan rasa hormat terhadap nilai-nilai lokal.
Kepemimpinan sosial tidak bisa hanya bergantung pada surat keputusan, struktur organisasi, atau instruksi formal. Ia membutuhkan sentuhan kemanusiaan.
Dalam buku Leading, Michael Moritz juga menekankan bahwa pemimpin harus mampu melihat masa depan. Organisasi tidak boleh hanya sibuk mengurus agenda tahunan atau kegiatan seremonial semata. Pemimpin perlu memikirkan bagaimana organisasi tetap relevan bagi generasi berikutnya.
Pertanyaan pentingnya adalah: apakah generasi muda masih merasa memiliki organisasi ini? Apakah sejarah keluarga dan leluhur terdokumentasi dengan baik? Apakah organisasi memiliki kontribusi nyata bagi kehidupan sosial masyarakat?
Di era digital, organisasi genealogis memiliki peluang besar untuk berkembang lebih modern dan produktif. Dokumentasi silsilah keluarga dapat dibangun secara digital, arsip sejarah dapat disimpan dengan baik, dan jaringan antarwilayah dapat diperkuat melalui teknologi informasi.
Lebih dari itu, organisasi juga dapat mengambil peran dalam bidang pendidikan, beasiswa, pelatihan usaha kecil, bantuan sosial, pemberdayaan pertanian, hingga penguatan ekonomi masyarakat desa.
Dengan basis solidaritas yang kuat, organisasi genealogis sebenarnya memiliki kekuatan besar untuk menjadi lembaga sosial yang berpengaruh dalam kehidupan masyarakat Indonesia.
Namun semua itu hanya mungkin terjadi apabila organisasi dipimpin dengan visi yang luas, bukan sekadar dikelola untuk kepentingan jangka pendek.
Kepemimpinan juga harus mampu menjadi pemersatu. Dalam organisasi besar, perbedaan pandangan dan kepentingan pasti akan selalu ada. Tetapi pemimpin sejati tidak memperbesar perbedaan tersebut. Ia membangun identitas bersama dan menjaga agar organisasi tetap bergerak menuju tujuan yang sama.
Sebab pada akhirnya, organisasi kemasyarakatan berbasis genealogis bukan hanya tentang menjaga hubungan keluarga. Ia juga tentang menjaga warisan nilai, memperkuat solidaritas sosial, dan membangun kontribusi nyata bagi masyarakat luas.
Di titik itulah makna memimpin menjadi lebih penting daripada sekadar memanejeri.
Memimpin berarti menjaga agar organisasi tetap memiliki arah. Memimpin berarti memastikan bahwa persaudaraan tidak berhenti sebagai slogan, melainkan tumbuh menjadi kekuatan sosial yang hidup di tengah masyarakat.
Dan organisasi yang mampu bertahan lama bukanlah organisasi yang paling ramai atau paling besar strukturnya, melainkan organisasi yang mampu merawat manusianya, menjaga nilai-nilainya, dan tetap relevan bagi generasi yang akan datang.
Memimpin, Bukan Sekadar Mengelola
Di tengah perubahan sosial yang semakin cepat, banyak organisasi kemasyarakatan berbasis genealogis menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Organisasi yang dahulu lahir dari semangat persaudaraan, sejarah leluhur, dan solidaritas keluarga kini sering terjebak pada rutinitas administratif. Struktur lengkap, rapat rutin, dan acara besar berjalan meriah, tetapi perlahan kehilangan arah dan daya hidup.
Di sinilah perbedaan antara mengelola dan memimpin menjadi penting.
Mengelola berarti memastikan organisasi berjalan secara teknis: administrasi tertib, program terlaksana, dan laporan selesai. Namun memimpin jauh lebih dalam. Kepemimpinan menyangkut kemampuan membangun visi, menjaga nilai, menyatukan perbedaan, dan menumbuhkan rasa memiliki di tengah anggota.
Dalam buku Leading, Alex Ferguson dan Michael Moritz menekankan bahwa organisasi besar tidak dibangun hanya dengan aturan, tetapi dengan budaya dan karakter yang kuat.
Pelajaran itu sangat relevan bagi organisasi genealogis di Indonesia yang memiliki cabang hingga ke desa-desa. Tantangan organisasi hari ini bukan sekadar memperbesar jumlah anggota, tetapi menjaga agar generasi muda tetap merasa memiliki hubungan dengan sejarah dan nilai leluhurnya.
Alex Ferguson menunjukkan bahwa organisasi harus lebih besar daripada tokoh. Pemimpin boleh berganti, tetapi budaya organisasi harus tetap hidup. Karena itu, organisasi genealogis tidak boleh bergantung pada satu figur semata. Regenerasi harus dibangun melalui kaderisasi dan pengabdian.D|Red.
Baca artikel menarik lainnya dari
mediadelegasi.id di GOOGLE NEWS.
Penulis : Dr. Wilmar Eliaser Simandjorang, M.Si.






