Karo-Mediadelegasi: Badan Nasional Penanggulangan Bencana meminta warga yang tinggal di kawasan sekitar Gunung Sinabung, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, untuk segera mengungsi ke tempat yang lebih aman. Imbauan ini disampaikan menyusul meningkatnya aktivitas vulkanik gunung berapi tersebut yang kini telah ditetapkan berada pada Level III atau Siaga.
Plt Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menjelaskan bahwa dampak aktivitas vulkanik Gunung Sinabung saat ini paling kuat dirasakan oleh warga di tiga desa, yaitu Desa Ndokum Siroga dan Desa Kuta Tengah di Kecamatan Simpang Empat, serta Desa Payung di Kecamatan Payung.
“Warga Desa Kuta Tengah untuk sementara telah diarahkan mengungsi ke Desa Sukatepu, Kecamatan Naman Teran,” ujar Berton dalam keterangan resminya pada Sabtu (5/9/2026). Pengungsian dilakukan secara bertahap demi menjamin keselamatan warga dari ancaman lontaran material vulkanik maupun hujan abu yang terus berlangsung.
Hingga Jumat (4/9/2026), tercatat sebanyak 208 kepala keluarga atau setara dengan 650 jiwa telah menjadi warga pengungsi akibat meningkatnya aktivitas gunung api. Dari jumlah tersebut, sebanyak 405 jiwa masih berada dan berlindung di Posko Pengungsian Jambur Arih Ersada, Desa Sukatepu, Kecamatan Naman Teran.
Bertambahnya jumlah pengungsi terus dipantau dan datanya senantiasa diperbarui oleh pemerintah daerah. “Pemerintah daerah terus melakukan pemutakhiran data untuk memastikan kebutuhan masyarakat terdampak dapat terpenuhi secara tepat,” tuturnya. Data yang akurat menjadi dasar penyaluran bantuan logistik, kesehatan, dan kebutuhan dasar lainnya.
Selain mengancam keselamatan tempat tinggal warga, letusan dan hujan abu vulkanik juga berdampak buruk terhadap lahan pertanian masyarakat yang berada di lereng gunung. BNPB menyebut luas lahan yang terdampak serta tingkat kerusakan yang dialami petani masih dalam proses pendataan menyeluruh oleh instansi terkait di lapangan.
BNPB bersama BPBD Kabupaten Karo terus mengimbau masyarakat agar segera meninggalkan zona bahaya yang telah ditetapkan dan berpindah ke lokasi pengungsian yang lebih aman. Sebagai langkah perlindungan diri, masker pelindung juga telah didistribusikan kepada warga guna melindungi saluran pernapasan dari paparan debu dan abu vulkanik.
Koordinasi penanganan darurat terus diperkuat bersama unsur TNI dan Polri guna menjamin ketertiban, keamanan, serta kelancaran proses evakuasi dan pendistribusian bantuan. Salah satu pos pemantauan utama didirikan di Pos Pengamatan Gunung Api Sinabung, Desa Ndokum Siroga, Kecamatan Simpang Empat, untuk memantau perkembangan aktivitas secara terus-menerus.
Patroli gabungan juga dilakukan secara rutin di sejumlah kawasan yang telah ditetapkan sebagai area terlarang, termasuk kawasan Danau Lau Kawar yang menjadi tujuan wisatawan. “Dari hasil patroli, kawasan tersebut dipastikan tidak terdapat pengunjung,” ungkap Berton, mengingatkan agar wisatawan tidak mendekati zona bahaya.
Aktivitas pendidikan pun turut menyesuaikan kondisi di lapangan demi keamanan para siswa. SD Negeri 040475 Tiga Serangkai memilih untuk sementara waktu menggelar kegiatan belajar mengajar di lokasi posko pengungsian agar tetap dapat melayani proses pembelajaran anak-anak yang ikut mengungsi bersama orang tuanya.
Sementara itu, bagi pelajar tingkat SMP yang bersekolah di luar desa, Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Karo telah menyediakan layanan antar-jemput sementara guna memastikan akses pendidikan tetap berjalan aman meskipun kondisi lingkungan sekitar sedang tidak menentu.
Perlu diketahui, peningkatan status Gunung Sinabung bermula dari erupsi besar yang terjadi pada 31 Agustus 2026 sekitar pukul 12.00 WIB. Erupsi tersebut melontarkan kolom abu setinggi sekitar 3.500 meter di atas puncak gunung. Sejak saat itu, aktivitas terus meningkat sehingga PVMBG menaikkan status dari Level II menjadi Level III Siaga pada pukul 12.30 WIB di hari yang sama. D|Red.
Baca artikel menarik lainnya dari
mediadelegasi.id di GOOGLE NEWS.
Penulis : Tagor
Editor : Alan







