Medan-Mediadelegasi: Harga minyak mentah dunia melonjak tajam pada awal pekan ini dan mendekati level 120 dolar AS per barel. Kenaikan tersebut terjadi setelah sejumlah negara produsen minyak di Timur Tengah memangkas produksi di tengah meningkatnya ketegangan konflik di kawasan tersebut.
Harga Minyak Melonjak Akibat Gangguan Pasokan
Lonjakan harga juga dipicu oleh penutupan jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz yang hingga kini masih belum kembali beroperasi normal akibat konflik yang melibatkan Iran. Kondisi ini memicu kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi global.
Mengutip laporan CNBC pada Senin (9/3/2026), harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) melonjak sekitar 26,5 persen atau naik 24 dolar AS menjadi sekitar 114,9 dolar AS per barel. Sementara itu minyak mentah jenis Brent crude oil yang menjadi acuan pasar global meningkat sekitar 23 persen menjadi 114,25 dolar AS per barel.
Secara keseluruhan, harga minyak Amerika Serikat tercatat naik sekitar 35 persen dalam sepekan terakhir. Lonjakan ini menjadi salah satu kenaikan terbesar dalam perdagangan kontrak berjangka sejak data tersebut mulai dicatat pada 1983.
Sebelumnya harga minyak dunia terakhir kali menembus level 100 dolar AS per barel terjadi pada tahun 2022 ketika Rusia melancarkan invasi ke Ukraina. Situasi serupa kembali terjadi akibat konflik yang kini melibatkan Iran dan memengaruhi jalur distribusi energi global.
Selat Hormuz sendiri merupakan salah satu jalur pelayaran paling vital bagi perdagangan minyak dunia. Sekitar 20 persen konsumsi minyak global biasanya dikirim melalui jalur tersebut menggunakan kapal tanker.
Baca Juga : https://mediadelegasi.id/longsor-tpst-bantargebang-empat-tewas-dan-lima-masih-dicari/
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, turut memberikan tanggapan terkait lonjakan harga minyak tersebut. Melalui akun media sosial Truth Social, ia menyebut kenaikan harga minyak dalam jangka pendek merupakan konsekuensi dari upaya menghentikan ancaman nuklir Iran.
Trump menilai lonjakan harga tersebut sebagai “harga kecil” yang harus dibayar untuk menjaga keamanan global. Pernyataan tersebut menuai beragam reaksi dari pelaku pasar maupun pengamat energi.
Di sisi lain, sejumlah negara produsen minyak di Timur Tengah mulai mengambil langkah pencegahan dengan memangkas produksi. Salah satunya adalah Kuwait yang mengumumkan pengurangan produksi minyak sebagai langkah mengantisipasi gangguan distribusi akibat situasi keamanan di kawasan Teluk.








