Menghadapi kondisi itu, Polri yang di pundaknya adalah penegakan hukum, sangat dibutuhkan sikap bijaksana. Bila perlu melakukan pembinaan kepada masyarakat untuk pengembangan potensi, sehingga mewujudkan kekuatan ekonomi, yang pada akhirnya akan mengurangi angka tindak kriminalitas.
Diharapkan, di hari lahir Polri yang ke 74 dan diwarnai tatanan sosial normal baru itu, institusi Bhayangkara lebih dewasa dan profesional dalam mengemban tugasnya.
“Tokoh agama, tokoh masyarakat harus dirangkul, sehingga memunculkan rasa kebersamaan dan kebangsaan sehigga mampu mengatasi segala persoalan di tengah-tengah masyarakat,” tukas Azlan.
Namun yang lebih penting lagi, kriminalitas yang tidak dimunculkan dari dampak Covid-19 harus segera diberangus. Seperti halnya, narkoba, judi, dan prostitusi ini harus rata dengan tanah.
“Ini akan mengganggu ketertiban masyarakat yang akan memulai kehidupan normal baru. Bila bandar narkoba dan pecandu tidak ditangkapi, ini akan mempersulit gerak tatanan new normal,” tandasnya.
Apalagi dalam hal penanganan narkoba, tegas Azlansyah, Polri masih rapor buruk, hampir dominan terpidana lapas di Indonesia berhubungan dengan narkoba, begitu juga tindak kriminal banyak yang dipicu dari penyalahgunaan narkoba.
Lewat hari jadi Porli ke 74, diharapkan melakukan kilas balik kinerja, khususnya dalam memundak amanah sebagai institusi penegah hukum. “Sehingga ke depan lewat institusi Bhayangkara pembangunan negara ini akan kencang mengejar ketertinggalan dan bisa menyetarai negara-negara maju,” kata Azlan.
“Menyongosong tema HUT Polri Maka kami sebagai mahasiswa siap bergandeng tangan dan di garda terdepan bersama Polri mewujudkan cita-cita para leluhur negeri ini yang telah bersusah payah dan berkorban darah serta nyawa,” tutup Azlan. D|Med-41