Kolaborasi para pemimpin negara anggota G20 menjadi paradigma penting untuk menggalang kekuatan untuk penyelamatan dunia dari sejumlah agenda penting.
KTT 20 tidak boleh gagal namun perlu berkolaborasi untuk menyelamatkan dunia dari berbagai tantangan yang dihadapi bersama saat ini terutama krisis ekonomi, perubahan iklim dan bahkan perdamaian dunia sebagai dampak perang antara Ukrania dengan Rusia yang masih berlangsung saat ini.
Demikian Joko Widodo selaku Ketua Presidensi G20 meluncurkan statemen tegas, saat pembukaan G20 tanggal 15 November 2022 di Nusa Dua Bali.
Penulis, berada di Bali, aktif mengamati dan menulis mengenai pelaksanaan G20 dari pembukaan hingga penutupan.
Mempunyai kesan bahwa Presidensi G20 yang dipimpin Joko Widodo sangat berhasil dan sukses serta berjalan dengan hormat dan berwibawa.
Semua pemimpin negara anggota G20 respek dengan Joko Widodo atas pelaksanaan G20 termasuk acara jamuan makan dengan pakaian nuansa batik Indonesia termasuk terobosan dan aksi nyata penanaman pohon Mangrove yang melibatkan para pemimpin negara anggota G20 dan pemimpin Lembaga-lembaga Internsional.
BACA JUGA: SDM Unggul Syarat Pengungkit Kebangkitan Indonesia
Penulis saat ini kembali aktif melakukan kajian tentang ekonomi dan kesejahteraan yang lama menjadi tupoksinya ketika duduk di Eselon I menjabat sebagai staf ahli di Kementerian Sekretariat Negara RI.
Pada perhelatan hari pertama G20 15 November, penulis mengamati bahwa sidang dipimpin Presiden Joko Widodo dihadiri para pemimpin anggota G20 dan pemimpin Lembaga-lembaga Internasional berjalan dengan berwibawa.
Hemat penulis, pelaksanaan sidang G20 telah berlangsung dengan baik dan sukses termasuk jamuan makan malam para pemimpin anggota G20 yang disambut dengan ramah oleh Presiden RI Joko Widodo dan Ibu Negara Iriana Jokowi. Dengan mengenakan pakaian adat Bali para pemimpin anggota G20 dijamu makan malam di Garuda Wisnu Kencana, Cultural Park, Badung Bali.
Yang menarik lagi Joko Widodo tidak lupa menonjolkan fakta bahwa demokrasi di Indonesia telah berjalan dengan baik.
Bahkan Presiden Dewan Eropa Charles Michel memuji kepemimpinan Joko Widodo sebagai Presidensi G20 yang terlaksana sangat baik.
Sebagaimana diungkapkan langsung pada saat konfrerensi pers di Auditorium Media Center KTT G20 di Bali International Convention Center (BICC).
Bahkan Sekjen PBB Antonio Gutteres memuji Indonesia karena begitu aktif berperan dalam memperkuat multiteralisme di tatanan global. Gutteres berharap agar Indonesia akan terus berkomitmen untuk menciptakan perdamaian dan stabilitas global.
Aksi kolaborasi para pemimpin anggota G20 diwujudkan Indonesia pada hari kedua pertemuan puncak G20 dengan mengundang para pemimpin negara G20 dan pemimpin lembaga internasional untuk menanam pohon Mangrove di taman hutan raya (Tahura) Ngurah Rai Kota Denpasar Bali.
Penulis memberi komen bahwa penanaman pohon Mangrove ini sebagai sebagai strategi dan upaya Indonesia dalam mewujudkan salah satu agenda penting Presidensi G20 mengenai transisi energi dalam menggerakkan pembangunan ekonomi hijau secara inklusif sekaligus sebagai solusi terhadap perubahan iklim.
Kontribusi nyata 1.300 hektar yang sebelumnya sebagai tambak ikan yang sudah terabrasi kini telah berubah menjadi rumah bagi 33 spesies mangrove dan 300 fauna. Indonesia sebagai pemilik hutan mangrove terluas di dunia yakni 3,3 juta hektar signifikan berkontribusi dalam mengatasi perubahan iklim sebagai wujud nyata Indonesia dalam penyelamatan dunia.
Keteladadan Presidensi G20 yang dipimpin Joko Widodo mendapat pujian dari para penimpin anggota G20. Pujian mengalir dari mana mana dan bahkan Presiden Amerika Serikat Joe Biden menilai pelaksanaan G20 di Bali selama 2 hari berlangsung sukses.