Pematangsiantar-Mediadelegasi: Implementasi Program Makan Bergizi (MBG) di Kota Pematangsiantar terus menunjukkan progres signifikan. Meski belum seluruh satuan pendidikan menikmati layanan ini, Pemerintah memastikan bahwa distribusi akan terus diperluas secara bertahap hingga menjangkau seluruh target sasaran.
Pematangsiantar Dorong Percepatan Distribusi Makan Bergizi Gratis
Saat ini, sejumlah sekolah di Pematangsiantar masih berada dalam daftar tunggu distribusi. Namun, pemerintah menegaskan bahwa kendala ini bukan karena pengabaian, melainkan bagian dari strategi manajemen distribusi agar kualitas gizi yang diterima setiap siswa tetap terjaga sesuai standar.
baca juga : https://mediadelegasi.id/pelajar-smk-tewas-tertabrak-ka-siantar-express/
Di tengah proses pemerataan layanan di sekolah, kelompok rentan justru telah lebih dulu mendapatkan akses. Ibu hamil, ibu menyusui, dan balita di Pematangsiantar kini telah menerima manfaat MBG sebagai bagian dari langkah preventif pemenuhan gizi sejak fase awal kehidupan.
Koordinator Wilayah Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) BGN Kota Pematangsiantar, Dinda Lestari, mengungkapkan bahwa pihaknya telah memegang data akurat mengenai total penerima manfaat. Data tersebut mencakup siswa, tenaga pendidik, hingga kelompok rentan di wilayah tersebut.
“Memang belum seluruh sekolah di Pematangsiantar menerima MBG, tetapi semua sudah masuk dalam perencanaan dan akan terakomodasi secara bertahap. Untuk ibu hamil, ibu menyusui, dan balita, saat ini sudah berjalan,” ujar Dinda pada Kamis (22/1/2026).
Data penerima manfaat ini menjadi fondasi utama dalam menghitung kebutuhan dapur produksi di seluruh penjuru kota. Pemerintah fokus memastikan bahwa setiap porsi makanan yang keluar dari dapur produksi memiliki nilai gizi yang tepat dan seimbang.
Hingga saat ini, tercatat sudah ada 23 dapur MBG yang beroperasi penuh di Pematangsiantar. Kehadiran dapur-dapur ini menjadi urat nadi utama dalam memastikan makanan sampai ke tangan penerima dalam kondisi segar dan layak konsumsi.
Selain dapur yang sudah aktif, pemerintah juga tengah memproses legalitas dan fisik bangunan pendukung lainnya. Sebanyak delapan dapur telah mengantongi Surat Keputusan (SK), sementara 11 dapur tambahan saat ini masih dalam tahap persiapan dan pembangunan intensif.
“Kami sedang melakukan percepatan. Data penerima manfaat sudah kami miliki, dapur terus bertambah, dan tahun ini kami targetkan seluruh penerima manfaat di Pematangsiantar sudah mendapatkan MBG,” tegas Dinda optimis mengenai target tahun 2026.
Jika seluruh infrastruktur tersebut rampung, total 42 dapur MBG diproyeksikan mampu melayani seluruh kebutuhan gizi siswa dan tenaga kependidikan. Kapasitas ini juga dirancang untuk terus mengawal kesehatan ibu hamil, ibu menyusui, serta balita di kota tersebut.
Dinda menjelaskan bahwa implementasi program dilakukan bertahap karena MBG bukan sekadar pembagian makanan, melainkan pembangunan sistem. Kesiapan infrastruktur, rantai pasok bahan baku lokal, serta standar mutu gizi menjadi tantangan yang harus dikelola secara konsisten.
Pada akhirnya, Program MBG di Pematangsiantar diarahkan untuk menciptakan ekosistem layanan gizi yang berkelanjutan. Dimulai dari perlindungan terhadap kelompok paling rentan, program ini kini bergerak menyisir ruang-ruang belajar demi mencetak generasi masa depan yang sehat dan tangguh.D|Red
Baca artikel menarik lainnya dari
mediadelegasi.id di GOOGLE NEWS.








