BACA JUGA: KH Miftachul Akhyar Marwah bagi MTQ ke 38 Sumut
Panggilan Prof kemudian melekat dalam diri Abbas sebagai Gubes membidangi keilmuan diampunya. Keseriusannya semakin terukur dalam meningkatkan kualitas dirinya juga SDM universitasnya.
Prof Abbas terus berkarya tidak saja sebagai pendidik tetapi juga mengabdikan dirinya sebagai peneliti terutama peneliti bidang pendidikan. Dia menyadari andil seorang peneliti begitu pening dan strategis guna memecahkan masalah-masalah pendidikan terutama yang yang berkitan dengan kulaitas proses pendidikan dan pengajaran kualitas atau mutu hasil pendidikan, efisiensi dan efektivitas pendidikan, relefansi pendidikan dan lain-lain.
Tidak sampai di situ kajian-kajian sejarah juga menjadi perhatiannya. Di sini Pak Abbas menemukam akan pengetahuan tentang kejelasan petistiwa yang pernah terjadi agar peristiwa tersebut mendapatkan penjelasan akurat, karena sejarah memiliki konsep heuristik, kritik, iterpretasi dan historiografi.
Perpaduan pendidik dan peneliti mewujudkan Prof Abbas Pulungan tidak saja sebagai seorang teorisasi tetapi juga praktisi matang dan handal di bidangnya. Berbagai karyanya yang kemudian menjadi ukuran bagian dari keberhasilannya memadukan itu. Karya-karyanya begitu menarik untuk dibaca, apalagi berbagai penelitian yang dilakukan bersentuhan dengan aspek sejarah, sosial dan pendidikan di masyarakat, dia eksplorasi dan kupas secara komprehensif.
Di antara menjadi karyanya adalah Pesantren Musthafawiyah Purba Baru Mandailing (2020), Islam di Kepulauan Nias Sebuah Pulau Terluar di Indonesia (2016) dan karya lainnya menghiasi wujud eksistensinya sebagai peneliti ataupun penulis.